PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

Antara Eksistensi dengan Esensi

Antara Eksistensi dengan Esensi
-Padmo Adi-

Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.

Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.

Comments