GATOTKOCO

 GATOTKOCO * *Dimuat dalam buku kumpulan Puisi Menolak Korupsi #10 MBGendam Aku melihat seorang aki-aki menari dia tergila-gila ingin tinggal di istana Dijanjikannya makan pesta tiap hari semua turut menari dan bergembira Dikabulkanlah renjana yang sudah menahun Dia kelilingi dirinya dengan para pria rupawan Dibelinya segala mainan perang-perangan Dia kira dia macan yang bikin orang tertegun Oh... lihat! Lihatlah! Aki-aki itu bicara besar diselingi nyinyir bibir nyenyenye lalu berteriak, "Hidup Pria Solo!" kemudian meradang, "Hai, (p)antek-(p)antek asing!" Aih... lihat! Lihatlah! Ribuan anak muntah habis makan nasi jatah Serambi Mekah masih diselimuti lumpur basah Sembilan belas juta tak jua terbuka Tujuh belas trilyun demi gabung Bangsa Wahyu 2:9 Ribuan orang dibatalkan giliran cuci darah Dan... uh... lihat! Lihatlah! Ada bocah akhiri diri tak punya ceban untuk buku Hongib tega lindas mati pemuda pekerja berjaket hijau Ndhas Kothak dapat jatah jaga proyek bangun k...

Antara Eksistensi dengan Esensi

Antara Eksistensi dengan Esensi
-Padmo Adi-

Katakanlah, sebagai contoh, aku adalah dokter. Bukan berarti aku harus menjadi dokter. David Hume mengatakan bahwa tidak ada ‘adalah’ yang memiliki arti ‘harus’. Eksistensiku memang dokter, tapi apa esensiku dokter? Jika eksistensi dokter itu tanpa esensi dokter, bukankah itu sama saja dengan apa yang dikatakan Carl Gustav Jung tentang persona/topeng?

Lalu, bagaimana bereksistensi secara orisinal? Pertama aku harus mengenali esensiku. Seperti kata Plato, “Kita mengenang/mengingat kembali idea kita.” Atau, dengan bahasa Aristoteles, esensi adalah potentia sedangkan eksistensi adalah actus. Eksistensi adalah bagaimana ‘mengalirkan’ esensi.

Apakah hal ini tidak bertentangan dengan credo para eksistensialis yang diproklamasikan oleh Jean-Paul Sartre bahwa eksistensi mendahului esensi? Tidak! Dari cara kita bereksistensilah orang mengetahui esensi kita. Orang melihat eksistensi dulu sebelum esensi.

Maka, jika aku bereksistensi tanpa esensi, aku telah membohongi orang lain, terlebih aku membohongi diriku sendiri, bahkan aku menghina TUHAN yang telah ‘menanam’ esensiku (yang orisinal) dalam kedirianku, meski TUHAN menghormati kebebasan manusia. Sebab, jika esensi adalah potentia dan eksistensi adalah actus, eksistensi yang tanpa esensi adalah eksistensi yang rapuh dan tak berdasar.

Comments