SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Dua Puluh Satu

Dua Puluh Satu
*untuk para pemuda Sanata Dharma

Pada sebuah senja panghabisan
Seorang pemuda duduk di pinggir jalan
Matanya menerawang
Hatinya tidak tenang
Gemuruh gelombang hidup menggentarkannya
Kematian yang gelap dan pekat menghantuinya

Masa depan yang entah bagaimana
Masa lalu yang belum juga menjadi legenda
Tiba-tiba saja melankolia itu menyelimuti
Mendekap erat, mencekik setengah mati
“Mengapa aku ada
dan bukannya tiada?
Mengapa aku beranjak dewasa
dan bukannya tetap kanak-kanak saja?
Mengapa aku hidup
jika terbatas pada kematian?”

Di pinggir jalan itu diamatinya manusia-manusia
Mereka berlalu-lalang
Sadarkah akan hidupnya?
Sadarkah pula akan kematian yang bisa datang tiba-tiba?

Diliriknya jam tangan
delapan belas tiga puluh
Senja semakin keriput
Kurang dari enam jam lagi usianya bertambah
dua puluh satu
Usia yang menuntutnya untuk berdiri sendiri
Sebentar lagi dia bukan lagi seorang remaja
dua puluh satu


Senja penghabisan telah merayap menjadi malam
Sebuah malam terakhirnya sebagai seorang remaja
Esok dia akan terbangun sebagai pemuda dewasa
Yang sah di bawah hukum negara
Yang legal menenggak bir atau vodka
Yang bebas menikah dengan siapa saja yang disuka
Yang merdeka bahkan untuk mengubah haluan agama

Justru inilah ketakutan terbesarnya
Berenang di lautan kebebasan sejati
Sebagai seorang manusia
dewasa
dua puluh satu
Yang tidak lagi memerlukan restu orang tua
untuk melakukan semua yang disuka
hingga kematian mengunjunginya

Digigitnya roti yang dibeli sore tadi
Waktu semakin merayap
dua puluh dua lima belas
Semakin dekat saat itu
Dia tak ingin terlelap malam ini
untuk terbangun esok sebagai pemuda dewasa

“Bagaimana jika tepat esok hari orang tuaku tiada?
Bagaimana jika aku tak dapat menghidupi hidupku sendiri?
Bagaimana jika tiada yang sudi kuajak kawin?
Bagaimana jika tiada pekerjaan yang layak untukku?”

Dia harus berdiri sendiri
dua puluh satu
dua puluh satu
dua puluh satu
Di depan mata
dua puluh satu
dua puluh satu
dua puluh satu
Sebentar lagi


dua puluh tiga lima puluh delapan
Ditatapnya langit mendung malam itu
Berdiri dia tegap
Dikepalkannya tinju
Dipukulnya langit seraya berkata
“Hidup itu di sini dan kini!
Majulah, akan kusongsong kau, wahai hidup!
Akan kurayakan hidup,
selayaknya menyambut hari kematian!
Kukatakan ‘ya’ pada hidup
Peduli setan dengan surga
Peduli malaikat dengan neraka
Di sini dan kini... aku hidup
Kukatakan ‘ya’ pada kebebasanku
Kukatakan ‘ya’ pada gemuruh yang menggentarkan itu
Kukatakan ‘ya’ pada hidup dengan kematian yang mengekornya
Kusongsong, kusambut, dan kurayakan hidupku, segenap kebebasanku
Aku ada!”

tepi Jakal, 06 Desember 2011
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments