DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Manusia Subyek Autonom – Mencari Antitesis Kapitalisme

Manusia Subyek Autonom – Mencari Antitesis Kapitalisme
-Padmo Adi-

Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang bebas. Dengan pilihan bebas ini manusia mewujudkan dirinya dalam merealisasikan suatu jenis kemanusiaan tertentu[1]. Perealisasian kemanusiaan ini dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya bekerja.
Dalam sistem kapitalisme orang-orang bekerja pada seorang pemilik modal (kapitalis). Sistem kapitalisme sebenarnya adalah sistem yang bebas, bebas dari pembatasan apapun, bebas untuk memproduksi barang sebanyak apapun. Tujuan sistem ini adalah keuntungan sebesar mungkin, uang sebanyak mungkin. Hal ini memberi ruang bagi manusia-manusia egois dan serakah. Para kapitalis itu saling bersaing; yang kuat menang, yang lemah kalah. Untuk bersaing produktivitas produksi harus ditingkatkan, biaya produksi ditekan serendah mungkin[2]. Tentu biaya produksi itu termasuk gaji/upah para pekerja.
Para pekerja yang disebut buruh itu semakin miskin. Mereka merosot ke bawah syarat-syarat eksistensi kelas mereka sendiri [MCP, MEW 4, 473]. Di sinilah letak ketidakadilan itu. Para buruh itu bekerja tidak lagi untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka, tapi semata untuk uang. Mereka kehilangan kebebasan justru oleh sistem yang bebas. Eksistensi mereka tertindas oleh overeksistensi sekelompok kecil orang yang disebut kaum kapitalis. Mereka dieksploitasi oleh kelompok kecil itu.
Kebebasan manusia terletak pada motivasinya. Manusia memutuskan apa yang ingin diperbuatnya, tidak seperti binatang yang ditentukan oleh lingkungannya[3]. Dalam kapitalisme kaum buruh tidak dapat memutuskan apa yang ingin diperbuatnya karena dalam kemiskinan (dan pemiskinan) mereka butuh uang.
Ketika seseorang menyadari kemanusiaannya, dia akan memanifestasikannya. Dia akan mengada sesuai adanya. Dia adalah subyek, tuan atas nasibnya sendiri. Dan, subyek-subyek yang lain pun pasti mengalami hal itu. Maka, eksistensi subyek yang satu dibatasi oleh eksistensi subyek yang lain. Di sinilah letak keadilan itu. Menurut Gabriel Marcel adalah hubungan subyek-subyek (ich-du), bukan subyek-obyek (ich-es). Jadi, sistem kapitalisme adalah sistem yang tidak adil.
Antitesis dari kapitalisme adalah sosialisme. Sosialisme tidak sama dengan komunisme. Komunisme juga adalah pendiktean orang banyak oleh sekelompok kecil orang, jadi esensinya sama dengan kapitalisme (sama-sama kanan), hanya beda pada eksistensi dan cara. Sosialisme berusaha menghapus penghisapan orang banyak oleh sekelompok kecil orang. Sosialisme, kata Sjahrir, adalah ajaran dan gerakan mencari keadilan di dalam kehidupan kemanusiaan[4].
Sosialisme mendorong subyek-subyek untuk memanifestasikan kemanusiaan mereka masing-masing tanpa terjadi overeksistensi. Sosialisme adalah konsekuensi logis eksistensialisme. Dan, sosialisme adalah solusi keadilan atas ketidakadilan dalam kapitalisme.


Bibliografi
Leahy, Louis,
          2007           Siapakah Manusia?, Yogyakarta: Kanisius

Magnis-Suseno, Franz,
          1999           Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia

Mangunwijaya, Y. B.,
          1998           Menuju Republik Indonesia Serikat, Jakarta: Gramedia

Sartre, Jean-Paul
          2002           Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar



[1] J. P. Sartre, Eksistensialisme dan Humanisme, terj. Yudhi Murtanto, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002, 86.
[2] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx, Jakarta: Gramedia, 1999, 165.
[3] Louis Leahy, Siapakah Manusia?, Yogyakarta: Kanisius, 2007, 194-221.
[4] Y. B. Mangunwijaya, Menuju Republik Indonesia Serikat, Jakarta: Gramedia, 1998, 212-233.

Comments