SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

Peziarah Tanpa Iman

Peziarah Tanpa Iman
*untuk Martasudjita

Beratus-ratus purnama aku merenungkan
dan pada malam yang itu aku meyakini
Kutanggalkan jubah kebesaran itu
untuk mengarungi samudera tanpa cakrawala

Bukan pada lubang di antara selangkang
Bukan pula demi uang yang bergelimang
Tetapi mengikuti kata hati sanubari
yang senantiasa bergema pada tiap sudut raga

Aku ini peziarah
tanpa iman
tanpa kepercayaan
tanpa tongkat pegangan
Hanya mengikuti bisikan nurani
penuh kesadaran dan kebebasan

Aku ini roh merdeka
yang tak mengimani surga
pula tak percaya neraka
Aku ini roh merdeka
yang narima ing pandum
Menjawab “ya” pada hidup
dengan segala konsekuensinya

Dengan kegairahan ini aku memilih mati di atas Teater Arena
dan bukannya mangkat dengan hormat di pastoran Gereja
Engkau takkan mengerti dan memahami jiwa kami
Engkau takkan mengerti dan memahami keputusan ini
Takkan pernah,
sebab kauberada di atas menara gading yang kuning
dan kepadamu semua lutut bertelut

Cawan yang tersaji di hadapanku telah kutenggak habis
Tubuh dan darahku telah tercurah di atas panggung teater itu
Semuanya telah menjadi persembahan yang sempurna
bagi hidup serta kematian yang mengikutinya
Sekiranya engkau harus menjadi kematian kecilku
jadilah!

Dan kalian,
jangan ikuti jejakku!
Buatlah jejakmu sendiri...

Tepi Jakal, 20 Mei 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments