DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Peziarah Tanpa Iman

Peziarah Tanpa Iman
*untuk Martasudjita

Beratus-ratus purnama aku merenungkan
dan pada malam yang itu aku meyakini
Kutanggalkan jubah kebesaran itu
untuk mengarungi samudera tanpa cakrawala

Bukan pada lubang di antara selangkang
Bukan pula demi uang yang bergelimang
Tetapi mengikuti kata hati sanubari
yang senantiasa bergema pada tiap sudut raga

Aku ini peziarah
tanpa iman
tanpa kepercayaan
tanpa tongkat pegangan
Hanya mengikuti bisikan nurani
penuh kesadaran dan kebebasan

Aku ini roh merdeka
yang tak mengimani surga
pula tak percaya neraka
Aku ini roh merdeka
yang narima ing pandum
Menjawab “ya” pada hidup
dengan segala konsekuensinya

Dengan kegairahan ini aku memilih mati di atas Teater Arena
dan bukannya mangkat dengan hormat di pastoran Gereja
Engkau takkan mengerti dan memahami jiwa kami
Engkau takkan mengerti dan memahami keputusan ini
Takkan pernah,
sebab kauberada di atas menara gading yang kuning
dan kepadamu semua lutut bertelut

Cawan yang tersaji di hadapanku telah kutenggak habis
Tubuh dan darahku telah tercurah di atas panggung teater itu
Semuanya telah menjadi persembahan yang sempurna
bagi hidup serta kematian yang mengikutinya
Sekiranya engkau harus menjadi kematian kecilku
jadilah!

Dan kalian,
jangan ikuti jejakku!
Buatlah jejakmu sendiri...

Tepi Jakal, 20 Mei 2012
Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments