SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

RAYAKANLAH HIDUP

RAYAKANLAH HIDUP
-Sebuah Aforisme-

We are not who we were. We are who we are not. We are who we choose to be.
Berbahagialah orang yang setidaknya pernah memiliki kisah cinta, sebab dia telah mengalami kegairahan hidup.
Dan, kamu tahu, apa yang paling membuat hati perempuan meleleh? Surat cinta dengan tulisan tangan. Trust me, it still works. Tapi, menulislah dengan indah, hahaha... .
Pernah, ketika jatuh cinta dulu, aku menulis 10 puisi dalam sehari. Hidup memang untuk dirayakan. Maka, mencintailah.
Walau bagaimanapun, cinta itu pilihan. Kita memilih mencintai yang seorang, dan merelakan yang lain.
Yang susah bukan pada tindakan memilih, melainkan pada menjalani pilihan. Sebab, setelah kita memilih, kita dihadapkan pada serangkaian konsekuensi dan tanggung jawab.
Namun, tatkala kita menyadari apa yang sebenarnya kita pilih, hidup akan terasa lebih menggairahkan.
Lepas-bebas. Nothing to lose. Jika benar hidup itu tragedi, hidup adalah tragedi yang menyenangkan, yang layak untuk dijalani dan selesaikan.
Menjalani hidup yang adalah tragedi dengan penuh gairah, tak lain merupakan suatu "ya" pada hidup itu sendiri. Sebuah pemaknaan baru atas "nrima ing pandum", memberinya suasana aktif.
"Nrima ing pandum" dan "pasrah sumarah" itu bukanlah suatu sikap pasif, sikap babu yang sekadar "nun inggih". Namun, menjadi suatu "ya" pada hidup ketika kita mampu menyadari tiap pilihan kita sehingga hidup dirayakan. Kita memberikan semua tanpa harus merasa kehilangan semua. Itulah cinta.
Demikianlah, kita telah menyungsangkan filsafat jawa, mendekonstruksinya, dan memberinya semangat nietzschean.
Aku berkata kepadamu, hidup adalah untuk dirayakan, bukan diratapi. Juga kematian, sebab kematian merupakan kristalisasi kehidupan. Live how you choose to die!

29 Mei 2012
Padmo Adi

Comments