DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

RAYAKANLAH HIDUP

RAYAKANLAH HIDUP
-Sebuah Aforisme-

We are not who we were. We are who we are not. We are who we choose to be.
Berbahagialah orang yang setidaknya pernah memiliki kisah cinta, sebab dia telah mengalami kegairahan hidup.
Dan, kamu tahu, apa yang paling membuat hati perempuan meleleh? Surat cinta dengan tulisan tangan. Trust me, it still works. Tapi, menulislah dengan indah, hahaha... .
Pernah, ketika jatuh cinta dulu, aku menulis 10 puisi dalam sehari. Hidup memang untuk dirayakan. Maka, mencintailah.
Walau bagaimanapun, cinta itu pilihan. Kita memilih mencintai yang seorang, dan merelakan yang lain.
Yang susah bukan pada tindakan memilih, melainkan pada menjalani pilihan. Sebab, setelah kita memilih, kita dihadapkan pada serangkaian konsekuensi dan tanggung jawab.
Namun, tatkala kita menyadari apa yang sebenarnya kita pilih, hidup akan terasa lebih menggairahkan.
Lepas-bebas. Nothing to lose. Jika benar hidup itu tragedi, hidup adalah tragedi yang menyenangkan, yang layak untuk dijalani dan selesaikan.
Menjalani hidup yang adalah tragedi dengan penuh gairah, tak lain merupakan suatu "ya" pada hidup itu sendiri. Sebuah pemaknaan baru atas "nrima ing pandum", memberinya suasana aktif.
"Nrima ing pandum" dan "pasrah sumarah" itu bukanlah suatu sikap pasif, sikap babu yang sekadar "nun inggih". Namun, menjadi suatu "ya" pada hidup ketika kita mampu menyadari tiap pilihan kita sehingga hidup dirayakan. Kita memberikan semua tanpa harus merasa kehilangan semua. Itulah cinta.
Demikianlah, kita telah menyungsangkan filsafat jawa, mendekonstruksinya, dan memberinya semangat nietzschean.
Aku berkata kepadamu, hidup adalah untuk dirayakan, bukan diratapi. Juga kematian, sebab kematian merupakan kristalisasi kehidupan. Live how you choose to die!

29 Mei 2012
Padmo Adi

Comments