MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com. Kala Kegelisahan melanda Kala Mala melumat purnama Bulan Separuh Bayang! Bawa ... Bawa ... Bawa ... seru orang-orang   Siapa yang tahan mendengarnya?! Kata-katanya membual lalu menyembur laksana bisa   Itu Rahu! Siapa yang tahu?!   Mereka pukul lesung bertalu Wulandari akan kembali Asura tinggal kepala saja Wisnu ada bersama kita   Jika asura itu akhirnya mati atau jatuh dan tergelimpang Cahaya Bulan meraja di bumi Malam muram masih panjang!   Tuhan ... kasihanilah kami ...   Malang, 01 Agustus 2026 Padmo Adi

DI SINI


Di Sini
*untuk mereka di Salatiga
Salah satu adegan di dalam Techno Ken Dedes, Salatiga, 19 Juni 2012


Jadi...
di sinilah aku
di kota keheningan dan cinta

Sebenarnya aku datang hanya ingin memandangmu,
bukan meninggalkan benihku.
Namun, terlanjur... maafkanlah aku.
Kuharap benih itu berkembang di rahimmu baik-baik...
jadi kata
jadi puisi
atau drama
atau sekadar maki!

Di sini, di kota ini, dulu aku mencari Tuhan.
Di sini pula aku mengartikulasikan cinta.
Kini, izinkan aku menumpang,
merebahkan tubuh di dalam pelukan panggung teater...
di sisimu...
di sini.

Segala cinta,
hidup,
kata,
dan kenangan akan Tuhan,
melebur di dalam perjumpaan...
wajahku dengan wajahmu...
di sini.

Kautahu,
kota ini selalu saja mendiktekan diksi menjadi puisi.
Menyesal aku tak membawa kertas dan pena.
Kukutuki diriku oleh karenanya.
Hingga akhirnya aku harus menyampah di sisimu.
Tapi, percayalah,
esok sampah-sampah ini akan kurangkai jadi puisi,
untukmu di sini.

20 Juni 2012
Padmo Adi

Comments

Post a Comment