SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

DI SINI


Di Sini
*untuk mereka di Salatiga
Salah satu adegan di dalam Techno Ken Dedes, Salatiga, 19 Juni 2012


Jadi...
di sinilah aku
di kota keheningan dan cinta

Sebenarnya aku datang hanya ingin memandangmu,
bukan meninggalkan benihku.
Namun, terlanjur... maafkanlah aku.
Kuharap benih itu berkembang di rahimmu baik-baik...
jadi kata
jadi puisi
atau drama
atau sekadar maki!

Di sini, di kota ini, dulu aku mencari Tuhan.
Di sini pula aku mengartikulasikan cinta.
Kini, izinkan aku menumpang,
merebahkan tubuh di dalam pelukan panggung teater...
di sisimu...
di sini.

Segala cinta,
hidup,
kata,
dan kenangan akan Tuhan,
melebur di dalam perjumpaan...
wajahku dengan wajahmu...
di sini.

Kautahu,
kota ini selalu saja mendiktekan diksi menjadi puisi.
Menyesal aku tak membawa kertas dan pena.
Kukutuki diriku oleh karenanya.
Hingga akhirnya aku harus menyampah di sisimu.
Tapi, percayalah,
esok sampah-sampah ini akan kurangkai jadi puisi,
untukmu di sini.

20 Juni 2012
Padmo Adi

Comments

Post a Comment