SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

Peradaban Tidak Bisa Dibangun di atas Dentuman Meriam dan Bedil!

Peradaban Tidak Bisa Dibangun di atas Dentuman Meriam dan Bedil!
-Padmo Adi-

Perang Tak Melahirkan Peradaban

Kita mungkin heran dengan cerita simbah bahwa dulu kita adalah penguasa samudera, Srivijaya lalu Majapahit. Armada-armada kapal kita begitu besar, megah, dan gagah membelah lautan. Monumen-monumen agung kita dirikan. Tulisan-tulisan dahsyat kita hasilkan. Peradaban dan kesenian (baca: sastra) saling beriringan. Namun, itu semua kini tinggallah dongeng sejarah tuturan simbah.

Bangsa kita mengalami dekadensi kemanusiaan dan kemunduran peradaban sejak abad XV. Banyak faktor memang: persaingan ideologi dan versi kebenaran filosofi, perjumpaan kita dengan orang-orang Eropa yang memperkenalkan kita dengan "bedil" dan "meriam", dan yang paling berat adalah perebutan kekuasaan yang terus-menerus. Bayangkan, dalam waktu 500 tahun, di Jawa terjadi peperangan dan pergeseran kekuasaan yang tidak sedikit! Majapahit vs Demak. Demak vs Pengging. Pajang vs Jipang. Mataram vs Pajang. Mataram vs Mangiran. Ekspedisi Sultan Agung Mataram. Mataram (Kartasura) vs Sun
an Kuning. Derbi Mataram: Surakarta vs Yogyakarta. Triple threat match: Surakarta vs Yogyakarta vs Samber Nyawa (Mangkunegara). Itu belum Perang Jawa (Pangeran Diponegoro vs VOC), dan perang-perang lain di seluruh penjuru Nusantara.

Bagaimana mungkin kita membangun kebudayaan dan peradaban di tengah situasi perang dan perebutan kekuasaan yang terus-menerus seperti itu? Beruntung kita masih bisa menyelamatkan peradaban dan kebudayaan dengan sastra (tembang, suluk, serat, dll.).

Menengok sejarah kita 500 tahun ke belakang, seharusnya kita belajar bahwa "Peradaban tidak bisa dibangun di atas dentuman meriam dan bedil!" dan "Kesusastraan harus menjadi pengawal dan bahkan penyelamat peradaban." Akhirnya, aku setuju dengan Rendra.

Comments