SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

GARUDADWIPA

GARUDADWIPA

Kita adalah anak-anak yang lahir di atas Garudadwipa
Tak peduli dari mana nenek moyang kita berasal
di tanah inilah ketuban yang melindungi kita tumpah
dan di sinilah kita menangis meraung pertama kali

Benar bahwa nenek moyang kita tidak seragam
Ada yang dari Sriwijaya
Ada yang dari Majapahit
Ada yang dari Negeri Naga
Ada yang dari Kekaisaran Roma
Ada pula dari Babilonia dan Persia
Namun, di sinilah kita
berdiri di atas Garudadwipa

Darah kita melebur bersama aroma tanah negeri ini
Nafas kita dipenuhi udara yang menyelimuti negeri ini
Setiap langkah kita menjadi jejak di atas tanah suci ini
dan ke dalam pangkuan Garudadwipa kita akan mati

Angkatlah wajahmu, Hai Garudaputra
Bentangkanlah sayap-sayapmu
Hunuskan cakar-cakarmu
Bersama kita terbang ke langit biru
dalam formasi Garudayudha,
mengoyak angkasa
membelah cakrawala
mengguncang bumi
menyibak samudera

Merah adalah warna leher kita hingga ke dada
Putih adalah warna perut kita hingga ke paha

Jaya...
Jayalah Sang Garuda!!!
Jayalah Garudadwipa!!!
Jayalah Garudaputra!!!

Bhumi Mataram, Garudadwipa, 19 September 2012 (03 Sela 1945)
Padmo Adi

Comments