DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

JIWA YANG GELISAH

JIWA YANG GELISAH

ilustrasi

jiwa yang gelisah
meluncur di jalan
dia sendirian
menembus angin
membelah udara
akan tetapi...
misteri kehidupan
tetap tak terdedah

hidup dan kematian
ada dan ketiadaan
adalah dua sisi berbeda
dari keping yang sama

hidup untuk dirayakan
dari tiada kita ada
hari ini ada, esok tiada
kematian bukan untuk diratapi

jiwa yang gelisah
meluncur di jalan
dia sendirian
menikmati setiap tikungan
hingga tiba pada suatu masa
dia beristirahat untuk selamanya

28 Oktober 2012
Padmo Adi

Comments