DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

BUKAN AGAMA


BUKAN AGAMA

Bumi ini berputar oleh karena gaya gravitasi, bukan agama
Dunia ini berubah menjadi lebih baik oleh karena cinta, bukan agama
Manusia berevolusi menjadi sempurna oleh karena kesadaran, bukan agama

untuk apa agama
jika tanpa kebijaksanaan
jika tanpa cinta dan kasih sayang
jika tanpa penghargaan kepada kemanusiaan
?

Tuhan,
aku mencintaimu
bukan karena takut neraka
bukan karena menginginkan surga
bukan pula karena perintah ajaran agama
tapi karena aku hidup
mencintai kebijaksanaan
dan menghargai kemanusiaan
serta ingin merayakan kehidupan

Amin!!!

tepi Jakal, 06 November 2012
Padmo Adi

Comments