MARIA GRAVIDA: Maria Kok Ngono?

  MARIA GRAVIDA Maria Kok Ngono?   Penampakan close up patung Maria Gravida. Dokumen pribadi. Salah satu contoh yang menarik pada fenomena hubungan agama dan seni adalah karya patung Maria Gravida. Karya tersebut menampilkan sosok Maria yang dalam keadaan hamil besar. Sebenarnya seni patung Maria Gravida bukanlah merupakan hal yang betul-betul baru; telah ditemukan seni patung Maria Gravida pada tahun 1400-an di Eropa. Namun demikian, patung yang menggambarkan perawan Maria tengah hamil besar itu adalah karya seni yang minoritas. Pada umumnya Gereja akan menggambarkan Bunda Maria sebagai seorang ratu (regina) yang gilang-gemilang. Pada beberapa karya, seperti patung Maria yang ada pada Gereja Lawang—Malang, Maria digambarkan sebagai sang Perempuan yang ada pada Kitab Wahyu. Baik Maria Regina ataupun Maria sebagai Perempuan Kitab Wahyu itu semua menggambarkan Maria yang “sukses” dan penuh kejayaan. Mudah bagi seorang Kristiani untuk berdevosi pada Maria yang menang itu. ...

500 Kilometer

500 Kilometer

Lima ratus kilometer
itulah jarak antara kau dan aku
itulah jarak yang memisahkan kita
Surakarta, kota para pemberani, di sini aku berada
sedang kau di Jayakarta, kota jaya, kota para pemenang

Takkan kubiarkan Batavia senantiasa merenggutmu dariku
Lima ratus kilometer adalah harga untuk meraih cintamu
Akan kutempuh lima ratus kilometer itu
untuk merebutmu kembali dari angkuhnya Ibu Kota

Ganas dan wingitnya Pantura bukan sekadar legenda
tapi kisah nyata yang aku saksikan dengan mata kepala
tak terhitung jumlahnya hidup berakhir di aspal Pantura
namun rasa takut lebur di dalam kobaran rindu di dada

Belum pernah kurasakan takut dan rindu jadi satu seperti itu
Hujan yang dingin di tengah gelapnya malam
Mesin yang meraung di tengah-tengah hutan
Lumpur yang menciprat-ciprat membutakan
Truck-truck dan bus-bus raksasa menghimpit
Namun aku percaya, jalan berliku itu mengantarku padamu

Ketika matahari menerangi Pantura
walau awan mendung masih saja meraja
saat itulah aku semakin merindukanmu
Jakarta, dua ratus sekian kilometer lagi
saat itulah aku menjadi ketakutan...
Sebab kudapati diriku melaju dengan gila
sebelum kusaksikan kecelakaan mencekam
yang mungkin terjadi setiap hari di Pantura

Hanya saja rindu inilah yang memimpinku
rindu inilah yang memacu pistonku hingga batas
rindu inilah yang ingin menebas lima ratus kilometer
rindu inilah yang hendak memenangkan cintamu di kota Jaya

Dan, ketika kulihat api emas di pucuk Monas
aku tahu, aku akan segera bertemu denganmu
memenangkan cintamu
di kota kemenangan
Jakarta!!!

*untuk Kartika,
aku menemukanmu, kasihku
mengenang kebersamaan kita, 30 Desember 2012 - 01 Januari 2013
Surakarta, 10 Januari 2013
Padmo Adi

Comments