DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

BERUBAH MENJADI WAJAHMU

BERUBAH MENJADI WAJAHMU

Kuambil sepiring nasi
lengkap dengan sayur
serta tempe sebagai lauknya
lalu menyalakan televisi kembali
sekadar sambilan aku makan

Namun, segera kumatikan kembali
Kali ini bukan karena muak dengan berita
tapi aku mengutuki diriku yang mungkin gila
Wajah news anchor itu berubah menjadi wajahmu

(Haruskah aku berlari memeluk televisi itu?
atau membeli pulsa dan segera meneleponmu?
atau kembali menempuh 500 kilometer berikutnya?)


*untuk Kartika Indah Prativi
30 Januari 2013
Padmo Adi

Comments