PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

REGUKLAH HIDUP. RAYAKANLAH!

REGUKLAH HIDUP. RAYAKANLAH!
-Padmo Adi-

Aku ini seorang eksistensialis. Aku tidak melihat dari mana kamu berasal. Aku tidak melihat apa agamamu. Aku tidak melihat apa rasmu. Aku tidak melihat bagaimana silsilah keluargamu. Yang aku lihat adalah perbuatanmu. Dari perbuatanmu itu, aku mendeskripsikan siapa dirimu. Dan, dari perbuatanmu itu, aku memahami konsekuensi yang kamu tanggung.

Bung, kita terapung-apung di dalam samudera kebebasan. Tidak ada manual-book di dalam hidup ini. Sangkamu kalau kamu melakukan A, kamu akan mendapat B, dan hanya akan menanggung B? Tidak, Bung, kamu bisa saja mendapat X dan menanggung Z. Namun, keberanianmu di dalam menanggung segala konsekuensi dari perbuatanmu itulah yang aku apresiasi. Itu merupakan suatu "ya" pada hidup. Layaknya seorang ksatria yang hidup sebagai ksatria dan mati pula sebagai ksatria.

Reguklah hidup. Rayakanlah!

Comments