SECAWAN ANGGUR

  SECAWAN ANGGUR Jika sekiranya mungkin biarlah anggur ini lalu daripadaku. Tapi bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak Bapa di surga. Dokumen pribadi. Di sini... di kota ini... aku benar-benar disapih dikastrasi dibiarkan mati-hidup sendiri Tidak ada hangat peluk puk-puk Mama Tidak ada lembut dekap payudara Tidak ada selimur supaya tak lagi berair mata Dijauhkan dari Tanah pusaka tempat moyangku dibumikan Dan kini cuma jadi kerinduan yang kepadanya hasrat mendamba Akan tetapi, keadaan ini justru aku syukuri sebab aku dengan merdeka mengada tanpa perlu alasan yang mengada-ada Aku bebas menciptakan diri bebas mengartikulasikan diri Aku bebas merayakan hidup menari dengan irama degup Memang hidup yang senyatanya ini tragedi belaka Apa makna dari membuka mata pagi-pagi, lalu memejamkannya di waktu malam tiba? Kecerdasan adalah memaknai tragedi sebagai komedi. Lalu kita bisa menertawakan duka yang memang musti kita terima! Menerima Mengakui adalah

Kami Bukan Setan

Kami Bukan Setan

Sepanjang malam kami gentayangan
duduk melingkar berputar
mengeja mantra-mantra
mendaras realita dunia

Kata kami ubah jadi mantra
Mantra kami ubah jadi bahasa
Bahasa kami ubah jadi Kebijaksanaan
Kebijaksanaan kami ubah jadi karya
Karya kami ubah jadi sejarah
Sejarah kami ubah jadi kata

Anggur persembahan kami adalah secangkir kopi
Asap rokok yang mengepul adalah dupa wangi
Semuanya bergema
melingkar
berputar

Dan, ketika adzan subuh berkumandang
kami segera bubar...
tak ada lagi yang melingkar
semua segera berlari-lari untuk pulang

Aku sendiri segera bersembunyi kembali
menyepi di Kaki Merapi
masuk ke bilik sunyi
tepat ketika lonceng gereja berdentang di pagi hari

Tidak,
kami bukan setan yang takut matahari
kami hanya penyair dan pemikir mandiri
yang menjadikan malam waktu diskusi
dan menjadikan siang waktu beraksi

(Mungkin kami akan mati...
tapi pada nisan kami akan tertulis banyak puisi
yang menceritakan bagaimana hidup dijalani)

tepi Jakal, 29 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments