DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Kami Bukan Setan

Kami Bukan Setan

Sepanjang malam kami gentayangan
duduk melingkar berputar
mengeja mantra-mantra
mendaras realita dunia

Kata kami ubah jadi mantra
Mantra kami ubah jadi bahasa
Bahasa kami ubah jadi Kebijaksanaan
Kebijaksanaan kami ubah jadi karya
Karya kami ubah jadi sejarah
Sejarah kami ubah jadi kata

Anggur persembahan kami adalah secangkir kopi
Asap rokok yang mengepul adalah dupa wangi
Semuanya bergema
melingkar
berputar

Dan, ketika adzan subuh berkumandang
kami segera bubar...
tak ada lagi yang melingkar
semua segera berlari-lari untuk pulang

Aku sendiri segera bersembunyi kembali
menyepi di Kaki Merapi
masuk ke bilik sunyi
tepat ketika lonceng gereja berdentang di pagi hari

Tidak,
kami bukan setan yang takut matahari
kami hanya penyair dan pemikir mandiri
yang menjadikan malam waktu diskusi
dan menjadikan siang waktu beraksi

(Mungkin kami akan mati...
tapi pada nisan kami akan tertulis banyak puisi
yang menceritakan bagaimana hidup dijalani)

tepi Jakal, 29 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments