DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Mereka Akan Pulang

Mereka Akan Pulang
*kepada Langgeng

Bung, setahun yang lalu kita mengirim anak-anak kita
Di rantau mereka berpetualang...
Konon kabarnya mereka menjelajah Eropa dan Amerika
tapi
ada juga yang mengatakan mereka membusuk di Sumatera

Anak-anak kita adalah para pemberani
Mereka berani keluar dari pulau ini
untuk menatap dunia
dan menarasikan Indonesia
tapi
ada juga yang mengatakan mereka membusuk di Sumatera

Aku tidak berani menyangsikan kabar dari dunia
tentang petualangan anak-anak kita di mancanegara
Namun, aku pun tak berani tidak percaya
bahwa mereka semata membusuk di Sumatera

Yang aku tahu aku rindu anakku, Bung...
sebagaimana engkau merindukan anakmu itu
Setahun sudah kita tak tahu di mana rimbanya
Setahun sudah kita tak tahu bagaimana kabarnya
Apakah berhasil mereka di Eropa dan Amerika,
atau benar membusuk bersama tikus di Sumatera?

Yang aku inginkan anakku pulang, Bung...
sebagaimana engkau menginginkan anakmu pulang
Mungkin mereka tidak akan tinggal,
sekadar menjenguk ayah yang menanggung rindu
Mungkin juga mereka akan menemani kita
menarasikan dunia dari mimbar hingga ke pasar
Setidaknya mereka pulang... menjenguk...

Bung, kemarin aku mendapat kabar
anak kita akan segera pulang
setelah setahun tidak memberi kabar
Cepat, Bung... cepat... kita kirimkan alamat
Mungkin anak kita lupa jalan pulang
setelah berbulan-bulan terdampar...

Semoga minggu depan pintu rumah kita diketuk
dan ketika kita membukanya,
anak-anak kita dari rantau itulah yang menyapa
mengobati tanya dan rindu setahun yang terkutuk

tepi Jakal, 29 Agustus 2013

Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments