MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com. Kala Kegelisahan melanda Kala Mala melumat purnama Bulan Separuh Bayang! Bawa ... Bawa ... Bawa ... seru orang-orang   Siapa yang tahan mendengarnya?! Kata-katanya membual lalu menyembur laksana bisa   Itu Rahu! Siapa yang tahu?!   Mereka pukul lesung bertalu Wulandari akan kembali Asura tinggal kepala saja Wisnu ada bersama kita   Jika asura itu akhirnya mati atau jatuh dan tergelimpang Cahaya Bulan meraja di bumi Malam muram masih panjang!   Tuhan ... kasihanilah kami ...   Malang, 01 Agustus 2026 Padmo Adi

Sebelum Bangun Matahari

Sebelum Bangun Matahari

Mereka telah berbegas jauh sebelum bangun matahari
Mengecup kening anak mereka yang masih terlelap
Lalu berpacu mengejar waktu yang tak sudi berhenti
Dan kembali sekali lagi melewatkan indahnya pagi

Mereka berlari pada jalan empat lajur ke timur
Saling himpit, saling sikut, saling rebut
Tidak ada waktu untuk memelankan laju
Segalanya berpacu dalam irama yang tergesa

Mereka berlari menyongsong matahari pagi
Tiada hari esok, tiada kemarin, yang ada saat ini
Makan atau di makan, menyikut atau disikut
Tanpa harapan, jadi tua di jalan, demi nasi hari ini

Ke Jakarta, Pelacur Tua itu, mereka berpacu
Mereka dikondisikan untuk saling membunuh
Dan, ketika senja tiba dan mentari hendak berlalu
Berdesak-desakan pula mereka pulang berlabuh

Malam telah meraja, matahari telah tiada, bulan anggun di sana
Peluh masih memenuhi tubuh mereka, tapi uang tak seberapa
Membuka kunci, membuka gerbang, mereka masuk peraduan
Lalu mengecup kening anak mereka yang terlelap duluan

*untuk mereka yang mencari sesuap nasi di Jakarta
Jog-jakarta, 15 Agustus 2013

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments