DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Di Depan Altar Ini

Di Depan Altar Ini
*untuk kawan-kawan yang sudah kawin

Di depan altar ini
kita berjalan beriringan
membawa lilin dan dupa wangi
serta roti dan anggur persembahan

Di depan altar ini
kita berjanji saling mencintai
di dalam susah atau senang
di dalam untung maupun malang

Di depan altar ini
kita saling memandangi
mulutku memagut mulutmu
setelah sang padri memberi berkat restu

Di depan altar ini
engkau membujur kaku
di dalam peti terbaring sendiri
dengan senyum meninggalkan aku

Januari 2009

Padmo Adi

Comments