SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

Kau dan Pelacur Tua

Kau dan Pelacur Tua

Mentari belum juga terbangun
‘kau sudah berhenti terlelap
Bahkan lupa apa mimpi semalam
Ataukah mimpi indah bertemu gadis tetangga
atau mimpi buruk kehilangan pekerjaan

Tidak ada sepuluh menit
‘kau sudah selesai mandi
Lima menit berikutnya
‘kau telah siap kerja

Melompat dari angkot satu ke angkot lain
Berlari mengejar bus kota bersama ratusan lainnya
dan melanjutkan tidur sembari saling himpit di dalam bus
yang menggelinding laju menuju Jakarta

Tak pernahkah kaunikmati indahnya mentari pagi,
kicau burung yang bersahut merdu menggoda hati,
atau tangis bayi tetangga yang merengek minta susu lagi?

Di depan sana Jakarta siap menyambutmu
Gerbang tol menjadi gapura selamat datang
Namun, ‘kau harus antri
Busmu yang tadi laju kini merangkak

Di tengah bising klakson dan kepulan asap knalpot
busmu terus merangkak
berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lain
Semua menuju Jakarta
yang mengangkang selangkang dengan genitnya

Jakarta,
pelacur tua itu masih menawarkan impian
harapan untuk hidup kaya berlimpah harta
menggenggam puncak dunia dan mandi uang berjuta

Takkan habis uang kaukejar
Hanya menghasilkan pilu dan sendu
Dan, tiba-tiba saja ‘kau kehilangan waktumu
menjadi tua dan renta
tanpa pernah semenitpun menikmati hidup
tanpa pernah sedetikpun merasakan cinta
Karena, untuk dapat menyusu dari payudara Jakarta,
‘kau harus terus mengantri sampai mati
dan terkubur tanpa nisan di antara gedung-gedung tinggi

Warung Susu Kayen, 06 Juli 2012

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments