SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Kau dan Pelacur Tua

Kau dan Pelacur Tua

Mentari belum juga terbangun
‘kau sudah berhenti terlelap
Bahkan lupa apa mimpi semalam
Ataukah mimpi indah bertemu gadis tetangga
atau mimpi buruk kehilangan pekerjaan

Tidak ada sepuluh menit
‘kau sudah selesai mandi
Lima menit berikutnya
‘kau telah siap kerja

Melompat dari angkot satu ke angkot lain
Berlari mengejar bus kota bersama ratusan lainnya
dan melanjutkan tidur sembari saling himpit di dalam bus
yang menggelinding laju menuju Jakarta

Tak pernahkah kaunikmati indahnya mentari pagi,
kicau burung yang bersahut merdu menggoda hati,
atau tangis bayi tetangga yang merengek minta susu lagi?

Di depan sana Jakarta siap menyambutmu
Gerbang tol menjadi gapura selamat datang
Namun, ‘kau harus antri
Busmu yang tadi laju kini merangkak

Di tengah bising klakson dan kepulan asap knalpot
busmu terus merangkak
berdesak-desakan dengan ribuan kendaraan lain
Semua menuju Jakarta
yang mengangkang selangkang dengan genitnya

Jakarta,
pelacur tua itu masih menawarkan impian
harapan untuk hidup kaya berlimpah harta
menggenggam puncak dunia dan mandi uang berjuta

Takkan habis uang kaukejar
Hanya menghasilkan pilu dan sendu
Dan, tiba-tiba saja ‘kau kehilangan waktumu
menjadi tua dan renta
tanpa pernah semenitpun menikmati hidup
tanpa pernah sedetikpun merasakan cinta
Karena, untuk dapat menyusu dari payudara Jakarta,
‘kau harus terus mengantri sampai mati
dan terkubur tanpa nisan di antara gedung-gedung tinggi

Warung Susu Kayen, 06 Juli 2012

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments