DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Nasi Sisa Semalam

Nasi Sisa Semalam

Ibu, aku lapar
Adakah yang bisa kumakan
sekadar mengganjal perut sepanjang pagi?

Ibu, aku mengerti
aku belum mampu bekerja sendiri
sehingga untuk sesuap nasi masih meminta

Ibu, adakah makan?
Semoga ini terakhir kali aku minta
dan hari ini aku bisa mencari nasiku sendiri





Nak, aku belum menanak pagi ini
Ibu juga belum membeli kebutuhan hari ini
Uang tiada, susah dicarinya
sementara harga semakin mahal saja
Namun, kalau engkau tak mengapa,
ada nasi sisa semalam di meja

Warung Susu Kayen, 06 Juli 2012

Padmo “Kalong Gedhe” Adi

Comments