DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

WAHAI MERAPI, KEPADAMU AKU BERSEMBUNYI

WAHAI MERAPI, KEPADAMU AKU BERSEMBUNYI

Wahai Merapi...
Kepadamu aku bersembunyi
Mengendapkan amarah...
dan dendam sejarah Sultan Agung Mataram.

Kalau ada kota yang ingin aku umpat
Wahai Merapi...
kau tahu, bukan, kota apa itu?

Kalau ada kota yang ingin aku maki
Wahai Merapi...
kau tahu, bukan, kota apa itu?

Pelacur tua yang menggelapkan gedung Gereja dengan mendung
Memabukkan pemuda-pemudi yang bau amis masturbasi
Dan menggilakan jiwa-jiwa yang lugu tak berdosa...

Wahai Merapi...
Kepadamu aku bersembunyi
Aku muak dengan terulangnya segala sesuatu

tepi jakal, 04 Juni 2013

@KalongGedhe

Comments