DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Yatim

Yatim

Aku ini seorang anak yatim
Ayahku mati disantet orang
tapi dokter bilang itu tumor
Apapun, yang jelas ayahku mati

Ayahku dulu pegawai negeri
Jujur dia mengabdi kepada negara
Dengan teguh hati menolak korupsi
Siapa yang nyeleweng diganyangnya

Pernah ada seorang nepotis
Bertindak curang demi untung pribadi
Sudah tentu diganyang oleh ayahku
Penuh dendam, orang itu pun berlalu

Tak peduli di kota, tak peduli di desa
Bukan hanya di Jakarta, di pelosok pun ada
Ketidakjujuran dan kecurangan mengancam siapa saja
Tak peduli sudah sembahyang lima kali sehari,
atau tiap Minggu ke gereja

Konon kabarnya orang itu sakit hati
Tidak terima dengan hardik keras ayahku
Dikirimnya teluh untuk menumbangkan ayah
Dan kini... jadilah aku seorang yatim

Dahulu sempat ada seorang sakti sebenarnya
Melihat ular besar melilit paru-paru ayah,
dia tawarkan pengobatan dengan japa mantra
Tapi, bagi ayah yang seorang rasional sejati,
hanya dokter yang bisa menyelesaikan sakitnya
Atau... biarlah seorang perempuan menjadi janda
dan tiga bocah menjadi yatim

Dekat jenazah ayah, orang sakti itu berkata pada ibu,
supaya ibu menaruh segenggam beras pada peti itu
sehingga segala teluh yang menewaskan ayah kembali
Tapi, sebagaimana ayah, ibu ikhlas tak dendam hati
walau... kini dia seorang janda
dan suaminya takkan pernah kembali

Jabatan dan kedudukan
Harta melimpah dan kemakmuran
lebih mengagumkan dari kejujuran
lebih berharga dari pada sikap satria
Agama saleh tak ubahnya kedok semata
Sedangkan kata “Tuhan” telah hilang arti

Selamat datang di negaraku ini...
tanah di mana melimpah anak yatim
yang ayahnya hilang dan mati
hanya karena punya harga diri

tepi Jakal, 26 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments