ANGIN SELATAN BULAN JULI

 ANGIN SELATAN BULAN JULI terima kasih atas cinta kita Angin selatan bulan Juli bawa hawa dingin nyayat-nyayat kulit nusuk-nusuk belulang Angin selatan bulan Juli ngingatkanku padamu yang njelma dermaga labuhanku tiap senja Angin selatan bulan Juli bekukan embun pagi erat kau aku peluk hangatmu nunda waktu Angin selatan bulan Juli membawa kenangan Salatiga aku mengungkapkan cinta kau pun tersipu mengiya Malang, 28 Juli 2026 Padmo Adi

Dua Wajah


Dua Wajah

Kalau kausimpan sejenak motormu,
lalu berjalan kaki, menyusuri jalan,
perempatan kota, dan tikungan di pedalaman,
atau sekadar naik bus, angkot, dan kereta
kauakan menjumpai barisan wajah-wajah

Ada cerita di balik wajah itu.
Ada drama, ada tragedi.
Ada romantika, ada komedi.
Wajah itu memiliki kisah sendiri-sendiri.

Namun, tak jarang kisah itu sembunyi
di balik roman muka dingin tanpa emosi.
Seakan tak ada yang terjadi
dan akan baik-baik sajalah esok hari.
Padahal, ketika kautatap wajah itu dengan jeli,
ada sebuah garis besar pemiskinan di negeri ini.

Namun, di sisi lain, pada suatu titik tertentu
kita perlu melampaui struktur, dan melihat pribadi.

Masih ada mental inlander yang bikin minder.
Hanya berhenti pada menjual iba kepada sesama.
“Seikhlasnya,” begitu pintanya.
Dan, ketika “seikhlasnya” itu diberikan,
bukan senyum ramah seperti sewaktu meminta,
melainkan sebuah gerutu kekecewaan.

Itulah dua wajah kemiskinan kita.
Satu sisi kita memang dipermiskin keadaan.
Namun, di sisi lain kita malah manja dalam kemiskinan
menjual-jual iba
tapi enggan bersyukur
juga lupa semboyan “berdikari”!

Berdikari itu memang menguras daya, Bung.

Malang, 30 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments