SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

Dua Wajah


Dua Wajah

Kalau kausimpan sejenak motormu,
lalu berjalan kaki, menyusuri jalan,
perempatan kota, dan tikungan di pedalaman,
atau sekadar naik bus, angkot, dan kereta
kauakan menjumpai barisan wajah-wajah

Ada cerita di balik wajah itu.
Ada drama, ada tragedi.
Ada romantika, ada komedi.
Wajah itu memiliki kisah sendiri-sendiri.

Namun, tak jarang kisah itu sembunyi
di balik roman muka dingin tanpa emosi.
Seakan tak ada yang terjadi
dan akan baik-baik sajalah esok hari.
Padahal, ketika kautatap wajah itu dengan jeli,
ada sebuah garis besar pemiskinan di negeri ini.

Namun, di sisi lain, pada suatu titik tertentu
kita perlu melampaui struktur, dan melihat pribadi.

Masih ada mental inlander yang bikin minder.
Hanya berhenti pada menjual iba kepada sesama.
“Seikhlasnya,” begitu pintanya.
Dan, ketika “seikhlasnya” itu diberikan,
bukan senyum ramah seperti sewaktu meminta,
melainkan sebuah gerutu kekecewaan.

Itulah dua wajah kemiskinan kita.
Satu sisi kita memang dipermiskin keadaan.
Namun, di sisi lain kita malah manja dalam kemiskinan
menjual-jual iba
tapi enggan bersyukur
juga lupa semboyan “berdikari”!

Berdikari itu memang menguras daya, Bung.

Malang, 30 November 2013
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments