PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

EMPAT SAJAK KETIKA MABUK

EMPAT SAJAK KETIKA MABUK

Aku Tak Bisa Tidur
Aku tak bisa tidur
di saat seharusnya aku sudah mendengkur!
Aku tak ingin merusak segala sesuatu yang sudah
            ditata dengan baik dan sesuai letak.
Keparat! Seharusnya aku tidak minum.
Kini aku bangun sendiri. Menjaga mereka yang
            lelap mendengkur kebanyakan minum.
Aku dengan mabuk merangkai puisi
sembari menjaga teman-temanku
dan ditemani segelas air putih
untuk mengundang kembali kesadaranku.
Oh Freud... Oh Lacan...
akankah aku sadar lagi?

Serigala Malam
Ketika air-air surga menghujan,
para serigala melolong
berlarian
menyalak.
Kini aku sadar.
Entah apa aku akan ingat esok hari.
Esok? Ini sudah esok!!!
Tidak... tidak... aku akan tenang
            menjaga mereka,
teman-teman yang kucinta.

Liar
Sesekali waktu kubiarkan ketidaksadaranku
            merajaiku.
Aku terus berjuang.
Bergulat di antara kesadaran dan ketidaksadaranku.
Tapi aku harus menjaga teman-temanku yang mabuk.
Temanku pergi. Pulang meninggalkan kami.
Kuharap dia baik-baik saja.
Kuharap dia baik-baik saja.
Baru kali ini aku kehilangan kesadaranku.
Lihatlah... bahkan tulisanku tak dapat
            dibaca.
Tapi aku masih setia bangun.
Menjaga lelap teman-temanku yang rubuh.
            Keparat adalah kata yang paling puitik.

Masih Harus
Aku masih harus pulang.
Tapi aku mabuk.
Dan kesadaranku, entah ke mana.
Aku hanya bisa memantaunya dari kejauhan.
Kuharap, teman-temanku baik-baik saja.
Sementara aku menjaga mereka
sembari memanggil kembali kesadaranku.
Yogyakarta 27 Januari 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments