SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

EMPAT SAJAK KETIKA MABUK

EMPAT SAJAK KETIKA MABUK

Aku Tak Bisa Tidur
Aku tak bisa tidur
di saat seharusnya aku sudah mendengkur!
Aku tak ingin merusak segala sesuatu yang sudah
            ditata dengan baik dan sesuai letak.
Keparat! Seharusnya aku tidak minum.
Kini aku bangun sendiri. Menjaga mereka yang
            lelap mendengkur kebanyakan minum.
Aku dengan mabuk merangkai puisi
sembari menjaga teman-temanku
dan ditemani segelas air putih
untuk mengundang kembali kesadaranku.
Oh Freud... Oh Lacan...
akankah aku sadar lagi?

Serigala Malam
Ketika air-air surga menghujan,
para serigala melolong
berlarian
menyalak.
Kini aku sadar.
Entah apa aku akan ingat esok hari.
Esok? Ini sudah esok!!!
Tidak... tidak... aku akan tenang
            menjaga mereka,
teman-teman yang kucinta.

Liar
Sesekali waktu kubiarkan ketidaksadaranku
            merajaiku.
Aku terus berjuang.
Bergulat di antara kesadaran dan ketidaksadaranku.
Tapi aku harus menjaga teman-temanku yang mabuk.
Temanku pergi. Pulang meninggalkan kami.
Kuharap dia baik-baik saja.
Kuharap dia baik-baik saja.
Baru kali ini aku kehilangan kesadaranku.
Lihatlah... bahkan tulisanku tak dapat
            dibaca.
Tapi aku masih setia bangun.
Menjaga lelap teman-temanku yang rubuh.
            Keparat adalah kata yang paling puitik.

Masih Harus
Aku masih harus pulang.
Tapi aku mabuk.
Dan kesadaranku, entah ke mana.
Aku hanya bisa memantaunya dari kejauhan.
Kuharap, teman-temanku baik-baik saja.
Sementara aku menjaga mereka
sembari memanggil kembali kesadaranku.
Yogyakarta 27 Januari 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments