SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

Para Tuhan Kita


Para Tuhan Kita

adalah orang yahudi yang pindah ke eropa jadi bule di sana...
adalah orang india yang sering ngegym hingga kekar tubuhnya...
adalah orang arab yang tak sudi digambarkan wajahnya, meski hanya sketsa saja...

mungkinkah Tuhan berkoteka?
mungkinkah Tuhan menatto tribal tubuhnya dan berburu di hutan-hutan kalimantan?
mungkinkah Tuhan menanam padi di sawah, bukan anggur, hingga punggungnya mengkilap hitam?
mungkinkah Tuhan memukul tifa?

Benarkah kita diciptakan segambar dengan Tuhan,
ketika gambaran kita akan Tuhan begitu berbeda dari kita... orang nusantara?

Mungkin memang tak ada yang asli ditanah ini...
juga Tuhan.

13 Juni 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments