DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

1998

1998
*kepada anak-anak di Sala

Anak-anak kita bahkan tidak tahu
apa yang terjadi
limabelas enambelas tahun yang lalu!
Mereka sama sekali tidak tahu!!!
Ini mengerikan... .

Kita tidak memerlukan pelajaran sejarah
sekadar untuk mengingatnya...
Kecuali kalau usiamu kurang dari enambelas kini
Memang kita butuh monumen...
"Di sini dulu sebuah toko dibakar
dan gadis cina diperkosa
oleh massa tak dikenal
yang konon berambut kotak"
Tapi hal itu tak pernah ada
Tak pernah ada

Peristiwa itu masih dekat dengan kita
Bola "Anak Mas" itu...
HP-HP baru itu...
Becak penuh sembako itu...
Api yang berkobar itu...
Serta tulisan "milik pribumi"
dan "pro reformasi"...
Lalu Si Jendral Tersenyum terguling

Aih... SE sudah jadi Jack Star!!!
Dan BHS Bank sudah jadi hotel
Kita sudah lupa
Kita amnesia

Politik pelupaan

*mengingat Surakarta
dari Ngayodyakarta, 10 Oktober 2014
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments