DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

BESOK TAK PERNAH TIBA

BESOK TAK PERNAH TIBA

segala yang kutahu...
aku terjepit dari segala penjuru!
tapi semua telah diseret ke hadapan mahkamah waktu...
bergeraklah hari ini...
sebab besok tak pernah tiba

tidak di manapun aku bisa bersembunyi
sebab penghakiman selalu tiba tepat waktu
menuntut perihal yang telah dilakukan
serta memaki segala sesuatu yang belum,
walau kita senantiasa membelum...
senantiasa tak paripurna

aku terlahir bukan sebagai siapa-siapa
tak ada yang terlahir sebagai siapa-siapa
juga raja
sebab raja itu bukan dilahirkan,
melainkan ditempa
oleh segala keputusan bebas yang dibuat
lalu mengkristal
menjadi nama
menjadi diri
menjadi cerita
menjadi legenda

sudah lama aku berlari
berkelana ke manapun jua
namun, masih kuingat pesan ini
"Jika kausenantiasa berjalan,
kapan kaubisa mengubah keadaan?"
besok...
besok tak pernah tiba

08 Oktober 2014
Padmo Adi

Comments