DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Bukan Puisi Esai

Bukan Puisi Esai
*kepada Denny JA, Bajingan!!!

Ini puisi bukan puisi-esai
bukan karena aku tak mau memberi catatan kaki
atau juga karena ini bukan puisi narasi
bahkan bukan karena aku ingin bikin puisi-skripsi
Namun, karena aku belum mau melampaui
apa yang disebut puisi
dan apa yang disebut esai
Sebab, esai bukan semata perkara catatan kaki

Ini adalah puisi
untuk mengutuk-sumpahi
orang yang mengaku
salah satu dari tiga puluh tiga
sastrawan paling berpengaruh
di negeri Indonesia
sejak awal abad kedua puluh

Pengusaha dia
Banyak uangnya
Konsultan politik pula
Aih... kapitalis sempurna


Denny JA,
Bajingan!!!
Kaubuat lima puisi
Puisi esai kaunamai
Belum juga itu dikritisi
juga belum ada satu dekade kini
kautahbiskan diri...
jadi sastrawan paling berpengaruh di negeri ini

Denny JA,
Bajingan!!!
Kaubayar itu sastrawan-satrawan tua
hingga sudi jadi pelacur
yang menjilat kaupunya pantat
Menjual puisi demi uang sepuluh juta
Menjual sastra demi uang yang kaubawa
Kaupikir estetika bisa diukur dari uangmu?
Kaupikir sastra bisa dinilai dari kapitalmu?

Denny JA,
Bajingan!!!
Jikalau ini adalah keniscayaan,
bahwa kauharus dicatat di dalam sejarah sastra
sebagai orang yang paling berpengaruh di dunia sastra,
maka dengarkanlah aku!!!
Aku, Padmo Adi, penyair,
Bapa Langit dan Ibu Bumi saksiku
Kupastikan kauakan dicatat di dalam sejarah sastra
sebagai seorang kapitalis bajingan,
yang membeli estetika dengan uang
dan yang telah mengencingi Sastra Indonesia
Kupastikan kauakan dicatat,
sebagai seorang bajingan yang berpengaruh buruk!!!

Hai anak-cucuku...
dengarkan seruanku!
Denny JA,
Bajingan!!!
Anak-cucuku,
ingat-ingatlah ini!
Denny JA,
Bajingan!!!

Bundaran UGM, 26 Oktober 2014
Padmo Adi

Comments