DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

(Jog)Jakarta - Sebuah Jakarta yang Lain

(Jog)Jakarta
Sebuah Jakarta yang Lain

Cinta kita yang terpisah
(Jog)Jakarta
Kautahu dan mengerti benar
aku benci Batavia
Jika itu bukan oleh karenamu
takkan sudi kuinjakkan kaki
di Kota Pelacur Tua

Segala kemewahan yang ditawarkan
Segala gemerlap yang mencekam
justru membuatku kehilangan hidup
Gedung-gedung raksasa nan megah itu
tak mampu menutupi
kekumuhan
kesemrawutan
bau bacin selokan
dan udara pekat keabu-abuan

Aku selalu tak habis pikir
bagaimana mungkin kaubisa hidup
di penjara raksasa macam itu?

Batavia adalah laboratorium kapitalisme dan segala akibatnya
sementara kita adalah kelinci-kelinci percobaannya
Kautahu, Kekasih, cinta kita taruhannya!!!

Tapi aku tak mau kalah
Aku tak ingin kehilangan momentum
untuk bertemu denganmu
melihat senyummu

Cinta kita yang terpisah
(Jog)Jakarta
Bukan agama
Bukan kolot pikir orang tua
Bukan adat masyarakat
Tetapi semata kita butuh uang
untuk tetap hidup di dalam sistem
yang sudah bobrok ini
Dan kita terpisah
(Jog)Jakarta

Ah... bahkan kapitalisme telah lancang mengurusi perihal cinta!!!

Dengan gontai aku pulang...
Kembali ke pelukan ibu... Mataram
Meninggalkan
kekumuhan
kesemrawutan
bau bacin selokan
dan udara pekat keabu-abuan

Akan tetapi...
kautahu, Kekasih,
apa yang di rumah kutemukan?
Rara Jonggrang meminta Bandung Bandawasa
tak lagi membangun seribu candi
melainkan seribu hotel berbintang
supaya hadir Jakarta-jakarta yang lain
(Jog)Jakarta

Trans-Jogja, Ring Road Utara
18 Oktober 2014
Padmo Adi

Comments