DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Segelas Cokelat Panas

Segelas Cokelat Panas

Segelas cokelat panas kunikmati
Tanpamu

Cokelat panas ini adalah sakramen
Yang menghadirkan kembali hangat senyum terkulum milikmu
Juga anamnese, kenangan akan kelincahanmu serta kegemaranmu pada cokelat

Masihkah kauingat delapan tahun yang lalu?
Aku melirikmu dengan malu-malu...

Izinkanlah aku membawamu pergi
Lalu kita membangun tenda
Di Sekipan
Tempat kita pertama kali bertemu

Lalu, kita bikin dua gelas cokelat panas...

Suatu hari nanti di depan altar itu,
Aku akan berbisik di telingamu
Mengulang kata-kata kramat Anak Domba
"Inilah tubuhku yang kuserahkan bagimu
Inilah darahku yang kutumpahkan bagimu"

20 Agustus 2014
Padmo Adi

Comments