DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Mazmur 137 Seorang Pengendara (Di Tepi Jalan Kaliurang, di Sanalah Aku Duduk Sambil Menangis)

Mazmur 137 Seorang Pengendara
(Di Tepi Jalan Kaliurang, di Sanalah Aku Duduk Sambil Menangis)

137:1 Di tepi Jalan Kaliurang, di sanalah aku duduk sambil menangis, apabila aku mengingat jalan-jalan berkelok itu.
137:2 Pada pohon-pohon cemara dan pinus, di tempat itu aku memarkirkan motorku.
137:3 Sebab di sanalah orang-orang yang menawan aku meminta kepadaku memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksaku meminta puisi sukacita: "Bacakanlah puisi sukacita, tentang jiwa yang bebas merdeka!"
137:4 Bagaimanakah aku membacakan puisi tentang pengendara merdeka ketika tesisku pun belum jadi?!
137:5 Jika aku melupakan engkau, hai jalanan berkelok, biarlah motorku turun mesin!
137:6 Biarlah motorku hancur pistonnya jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan jalanan berkelok puncak sukacitaku!

Comments