DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Kupilihkau untuk Berjalan Bersama

Kupilihkau untuk Berjalan Bersama

Kupilihkau untuk berjalan bersama
bukan karena kita sama,
justru karena kita berbeda.
Namun, kita sama-sama diikat cinta.

Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku.
Aku mencintaimu dengan segenap ragaku.
Tak perlu kita maknai apa cinta ini... .
Dalam hening mari cinta kita nikmati.

Di hadapan langit dan bumi
dan di hadapan segenap umat manusia
kuucapkan janji setia:
Aku akan mencintaimu
dalam untung dan malang
dalam suka maupun duka
dalam sehat ataupun sakit.
Aku akan setia.
Dan, aku bersumpah:
hanya dirimu yang kucinta
hanya cintamu yang kudamba.

Maka, kepadamu kuminta,
setialah... hingga Tuhan memisahkan kita
lewat maut yang agung mulia.
Atau, kita akan mati bersama
dengan saling berpelukan menghadap-Nya.

Mari, kemari belahan jiwaku, sigaraning nyawaku.
Tepat pada hari ini kaujadi istriku
dan aku jadi suamimu.
Hari ini bukan akhir dari kisah cinta kita...
justru perjalanan penuh rintangan baru saja kita awali.

Maka, biarlah di hadapan langit dan bumi
dan segenap umat manusia yang menjadi saksi
kupeluk jiwa-ragamu erat
dan kita saling berpagut mesra.

Aku mencintaimu.


Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments