SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA”

    SAMBUTAN KETUA PELAKSANA PKKMB FIB UB TERAS BUDAYA 2025 Pembukaan PKKMB “Teras Budaya FIB UB 2025 – ARUNA KARSA” Lapangan Parkir Atsiri UB. Kamis, 14 Agustus 2025 PKKMB Teras Budaya FIB UB 2025 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Rahayu, Berkah Dalem, Yang saya hormati: Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya Para Ketua dan Sekretaris Departemen,  Ketua Program Studi, pimpinan unit dan tenaga kependidikan FIB Segenap Dosen dan Tendik FIB Seluruh panitia pelaksana Teras Budaya 2025 Dan yang saya kasihi, mahasiswa baru Fakultas Ilmu Budaya, ARUNA KARSA 17 . Selamat pagi! Pada pagi hari ini layak kita mengucap syukur kepada Tuhan yang Mahaesa, sebab kita masih diberi rahmat kesehatan dan berkat kehidupan, sehingga kita sepagi ini dapat berkumpul di lapangan parkir Atsiri, untuk menjalani giat PKKMB Teras Budaya 2025. Tatkala Kaprodi saya, Mas Doni, memberi tahu bahwa saya telah dipili...

PADA LORONG INI - Refleksi Filosofis-Puitis


Pada Lorong Ini
Refleksi Filosofis-Puitis

Padmo Adi

 


KATA PENGANTAR

Setelah mengadakan malam revolusi (jeblink[1]) tepat seminggu setelah Malam Paska 2009, saya kembali ber-evolusi. Tujuan saya melepas jubah itu adalah supaya dapat dengan bebas menjadi seorang seniman, penyair, dan pemikir-bebas. Dalam pengasingan yang baru saya terus berproses, merenung, menulis, dan bersyair. Saya sudah ikut sebuah kelompok teater, itu pertama. Saya masih merenung dan menulis serta bersyair, itu kedua. Namun, saya belum sempat melukis, itu soal lain. Fokus utama saya sekarang adalah kembali memperkenalkan eksistensialisme-humanisme[2] dengan cara yang sebenarnya tidak terlalu genuine, sastra. Maka, saya bermaksud mempublikasikan hasil-hasil renungan saya dalam rupa puisi ini. Dalam buku kecil ini terkandung puisi-puisi saya, renungan-renungan filosofis tentang kehidupan. Selain itu juga ada beberapa renungan dalam wujud esai saya letakkan di antara puisi-puisi sebagai oasis ketika bosan membaca puisi-puisi itu.
 Terus-terang belum pernah dari tulisan-tulisan dalam buku ini yang dipublikasikan. Beberapa puisi memang pernah saya muat dalam ‘Kala Senja Tiba’, sebuah buku indie koleksi pribadi hasil iseng belaka. Sedangkan beberapa esai pernah saya kumpulkan kepada dosen sebagai paper. Namun, sebagian besar tulisan yang termuat dalam buku sederhana ini benar-benar masih perawan.
Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis buku ini, tapi kesibukan kuliah, adaptasi sesudah revolusi, dan kesibukan berteater sebegitu menyita perhatian sehingga saya mengalami kesulitan menciptakan waktu untuk buku ini. Justru setelah mengalami kecelakaan tunggal bersama teman sesama exfrat[3], baru saya mampu menciptakan waktu untuk menyelesaikannya. Sungguh suatu ironi memang. Namun, setidaknya buku ini dapat menjadi manifestasi ungkapan syukur saya kepada Dia Yang Adalah Dia sebab kami masih diberi kesempatan untuk mengada (sesuai ada). Pernyataan tadi mungkin agak mengejutkan. Orang-orang yang tidak begitu mengenal saya mungkin menilai saya adalah seorang kafir di bumi Indonesia yang percaya akan Ketuhanan –dengan nama siapapun kita memanggil Dia– sebab mereka salah paham dengan salah satu puisi saya yang tidak saya publikasikan kecuali dalam milis. Sebenarnya saya bukan seorang penganut atheisme ataupun deisme. Verus philosophus amator Dei[4], amator Dei amator homini.
Jika ditanya kepada siapa buku ini saya dedikasikan, saya akan menjawab kepada mereka yang masih mencari Larasati[5], khususnya para pemuda. Sedangkan secara ad hominem saya akan mendedikasikan buku ini kepada C. B. Mulyatno, Pr (dosen filsafat di FTW – USD), Andreas Tri Adi Kurniawan, MSF yang banyak memberikan inspirasi, Albertus Magnus Than Tian Sing, MSF yang mengajari kami segala hal tentang kemanusiaan, teman-teman seperguruan di Salatiga (khususnya Dismas ‘Gogon’ Bayu Dewantara yang turut saya celakakan dalam kecelakaan tunggal itu), dan mereka yang padanya saya berkorelasi dalam suasana cinta. Jadi, jika Anda merasa sedang mencari Larasati atau adalah salah satu nama yang saya sebut di atas, buku ini untuk Anda. Saya harap buku sederhana ini dapat berguna bagi Anda. Lewat buku ini saya hanya share tentang petualangan saya mencari Larasati dan suka duka saya mencintai Sophia. Dengan membacanya mungkin kita akan berdialog sehingga akan memunculkan sintesis-sintesis baru demi kehidupan yang lebih baik.
Selamat membaca. Sapere aude!!!

Sarang Kalong, 23 Juni 2009


Baca selanjutnya...
Unduh di sini (download here)
 

[1] Keluar dari biara.
[2] Soren Kierkegaard mendirikan aliran ini pada akhir abad XIX, Martin Heidegger me-booming-kannya setelah Perang Dunia II, Jean-Paul Sartre mendoktrinkannya pada akhir abad XX.
[3] Mantan frater.
[4] Pernyataan Augustinus, “Filsuf sejati adalah pecinta Allah.” Dan, saya menambahi, “Pecinta Allah adalah pecinta manusia.
[5] Laras: harmoni; ati: hati; larasati: harmoni hati.

Comments