ICOLLEC FIB UB

  International Conference on Language, Literature, Education, and Culture (ICOLLEC) 2021 Virtual Conference Faculty of Cultural Studies - Universitas Brawijaya “The Dynamics of Language, Literature, Education, Art, and Culture  of a Changing Society in The Age of Disruption” 🎤 SPEAKERS 1. Prof. Dr. Bernard Arps - Leiden University 2. Prof. Dr. Sharmani Patricia Gabriel - Universiti Malaya, Malaysia 3. Prof. Hsueh-Hua Chuang - National Sun Yat-sen University, Taiwan 4. Prof. Hisanori Kato - Chuo University, Japan 5. Dr. Dag Yngvesson - University of Nottingham, Malaysia 6. Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel - Universitas Brawijaya 🗓️ International Conference: 9-10 October 2021 🗓️ Important Date 1. Abstract submission is extended until 05 September 2021 2. Notification of abstract acceptance is extended until 20 September 2021. 3. Payment deadline: 30 September 2021 4. Full paper: 8 October 2021 5. International conference: 9-10 October 2021 6. Notification of fullpaper for proceeding:

KLECA


Kleca

Kleca... Kleca...
sungguh aku ingin menangis menatapmu.
Akan tetapi, air mataku terlanjur kering,
membatu, dan mengganjal hatiku.

Masihkah ada Tuhan yang tersalib di rahimmu?
Sementara kausibuk bersolek diri,
memulas dengan gincu yang sebenarnya wagu,
perlahan kaukehilangan hangat keibuanmu.

Di manakah batu-batu kali itu?
Mungkin sudah kaugunakan
untuk merajam kecompang-campingan.
Kini bergemerlapanlah ‘kau. Megah nian.
Namun, anak-anakmu berserakan.

Kleca... Kleca...
Ingin rasanya aku mengumpulkan anak-anakmu,
tapi ‘kautendang-singkirkan buah rahimmu sendiri!
Hanya karena mereka begitu berisik mencintaimu,
“Jangan terlena bergincu. Tetap bersahajalah seperti dulu.”
O... Kleca... kemegahanmu sungguh sepi.

Begitu jor-joran kautampilkan wajah megahmu,
sementara anak-anakmu yang tersisa keleleran.
Ada yang bingung mau ke mana dan bagaimana.
Ada pula yang mengeluh, kauhisap tiap Minggu.
Tidakkah kaudengarkan jeritan sunyi mereka?

Kleca... Kleca...
Lihatlah patung yang tersalib
dari tembaga dalam ronggamu itu.
Kurus kering, cokelat kemerahan.
Namun, begitu jauh. Begitu asing.
Juga empat patung raksasa yang mendampinginya.
Temanku mengira itu bukan Maria, tetapi Jenova.

Masihkah ada Tuhan di dalam kemegahanmu itu?
Tuhan yang lahir di dalam kandang domba.
Tuhan yang berselimutkan kecompang-campingan.
Tuhan yang tak punya tempat untuk meletakkan kepala.
Tuhan yang mati hina, didera dan disalib, tanpa busana.

Jalan Ruwet Duwet, Karangasem, 08 Desember 2016
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments