DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Mereguk dari Payudaramu yang Agung

Mereguk dari Payudaramu yang Agung

Ibu... mengapa...?
Mengapa kaulakukan itu?

Aku mencari anak-anak
hingga ke kota-kota yang jauh
Aku membawa anak-anak itu
untuk menyusu padamu
mereguk dari payudaramu yang agung
yang, kukira, kaya
dipenuhi pengetahuan dan kebijaksanaan

Tapi mengapa...
justru kauhisap mereka
tepat di ubun-ubun?

Surakarta Utara, 23 April 2017
Padmo Adi (@KalongGedhe)

Comments