DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

JALAN KEMIRI

Jalan Kemiri

Delapan tahun sudah tak kulalui jalan ini.
Di sini keremajaanmu berbunga,
dan aku malu-malu memetiknya.

Kini cinta kita berbuah kehidupan. (Foto koleksi pribadi)
Masihkah kauingat,
kita berjalan berdua menyusuri Jalan Kemiri?
Lalu makan di salah satu warung
yang bersahabat dengan kantong anak kos macam kita.

Dan masih berdiri di tempatnya,
kos-kosanmu yang jadi saksi cinta culun itu.
Aku tertawa geli mengingat aku harus sembunyi,
pura-pura berak di WC agar ibu kosmu tak mempergoki.

Ah... Jalan Kemiri...
dan cinta yang kini beranjak abadi.
Selalu ada tempat di hatiku untuk Salatiga, Ka,
sebab di sanalah awal mula kisah kedua kita.

Salatiga, 17 Juli 2017
Padmo Adi

Comments