DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Secangkir Creamy-White-Coffee-Like-Her-Pussy

Secangkir Creamy-White-Coffee-Like-Her-Pussy

Setahun lalu kaudatang padaku mengemis
Dengan senyum memberiku janji manis
Akan perjuangan bersama yang mulia
Dan harapan akan surga yang turun ke dunia

Kini kaucampakkan aku di sudut berdebu
Kudapati diriku meratapi nasib dengan gerutu
Apa lacur, aku terlanjur ditetak oleh Sang Bapa
Terfragmentasi, kagol, dan ambyar menyisakan ‘a’

Jujur, aku rindu rindang Beringin itu...
Di bawahnya kami mabuk buku dan ciu
Dan di sana, sesuatu belum juga selesai
Masih tertinggal tergeletak terbengkalai

“Kuwat lakoni, ra kuwat tinggal ngopi!”
Maka, ke dalam kopi itu aku melarutkan diri
Sekadar menghibur hati yang meradang
Lalu perempuan pelayan itu datang

Ya...
I like it creamy-white-coffee-like-her-pussy

Karangasem, 22 Agustus 2017
Padmo Adi

Comments