DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

AFORISME AGUSTUS-SEPTEMBER 2017

Bercinta Bagi Kelas Proletar

Bagi kelas proletar yang tidak memiliki televisi, tidak memiliki radio, bahkan tidak memiliki handphone yang bisa buat internetan, bercinta bisa menjadi satu-satunya hiburan yang bisa bikin lupa bahwa ini tanggal tua.

27 Agustus 2017
@KalongGedhe

***


KOMIDI PUTAR

Hidup itu seperti menaiki Komidi Putar tanpa wiyu-wiyu. Supaya gayeng, sebaiknya aku menyuarakan wiyu-wiyu itu dari mulutku sendiri... semata agar Komidi Putar ini tetap komidi.

31 Agustus 2017
@KalongGedhe

***


 

Tuhan

1. Aku tidak tahu (si)apa Tuhan bagimu. Bagiku, Tuhan itu pelawak yang gak lucu. Jayus. Namanya aja Jayus Kristus!!!

2. Pernah suatu sore aku mencari Tuhan di belakang altar. Tapi aku tidak menemukan Tuhan di sana. Akhirnya, aku pergi ke pasar. Tuhan sedang sakit kusta, telanjang, di sudut pasar itu. Dia memandangiku. Apa yang Dia mau?

3. Suatu siang kudapati jalanan macet. Orang-orang berdemo, membawa-bawa Nama Tuhan. Tapi tak kulihat Tuhan di sana. Ternyata, Tuhan sedang menunggui orang bercinta! “Aku sedang menciptakan anak manusia!” sabda-Nya.

4. Sering kali kudapati Tuhan yang diam. Tak sepatah kata pun Dia sabdakan. Biasanya yang cerewet itu justru para Pengkhotbah... . Cerewet... karena dapat uang dari cerewetnya itu. Sekali “Tuhan sertamu”, sepuluh juta bisa masuk kantong. Tapi, sering kali Tuhan itu diam. Tak terperi. Melampaui bahasa. Sebab, bahasa itu tak paripurna. Petanda apa yang bisa kita berikan kepada Penanda “Tuhan”?

Jalan Ruwet Duwet, 07 September 2017
@KalongGedhe



Comments