DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Bagaimana Jika Tuhan Itu adalah Seorang Pengamen?

Bagaimana Jika Tuhan Itu adalah Seorang Pengamen?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang pengamen
yang tiba-tiba berdiri di depan rumahmu
menyanyikan lagu Bapa Kami gaya Kota Baru?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang ibu
yang membiayai hidup dan kuliah anak gadisnya
dengan berjualan rica-rica dan sengsu?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang asing
yang duduk di sebelahmu pada sebuah warung hik
menyantap sega kucing yang sama denganmu?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah seorang LC
yang pada suatu bilik karaoke menemanimu nyanyi
demi anak lelakinya yang masih bayi?

Bagaimana jika Tuhan itu adalah orang tua
yang memohon kepadamu, anaknya
untuk mencoba daftar jadi abdi negara?

Yang jelas,
kita takkan pernah mengenal Tuhan yang tak kelihatan
hanya dengan berteriak-teriak memanggil Nama-Nya

Surakarta Utara, 25 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments