PESTA SUNYI OLIGARKI

  PESTA SUNYI OLIGARKI   Tim Kamboja, Garda Akhir RS Brayat Minulya memberi penghormatan terakhir dan doa kepada jenazah korban covid19. Begajah, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto dari Antonius Suhartanto. Matahari pagi membakar orang-orang renta yang memohon hidup darinya Pada lorong-lorong rumah sakit banyak orang keleleran menolak mati B anyak juga orang meregang nyawa sendiri di rumah tanpa sempat melolong minta tolong Ambulan-ambulan mulai lunglai, tak lagi kuat mengantar tubuh-tubuh dan bangkai   Sementara itu di jalanan-jalanan kota, aku melihat wajah-wajah oligarki menjual diri pada baliho-baliho besar-besar sembari menulis nama lengkap dan empat angka : 2024   Aku ingin meludah ! Di saat kita dilanda nestapa... bernapas tak bisa, perut juga meronta! Aku ingin muntah ! Di saat maut mengepung laksana sekawanan serigala... pergi keluar mati dicekik korona tetap di rumah mati kelaparan nasi tiada   Kita ditinggalkan mati sendiri

Kisah Si Momo

Kisah Si Momo
 
Ilustrasi oleh Louis Edo Kris Kelana

Sewaktu kecil Momo ingin jadi sastrawan
Teman-temannya sudah jadi cerpenis dan penyair
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh yang mulai mencair

Beranjak remaja, Momo ingin jadi aktor
Teman-temannya sudah nongol di layar lebar
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia menyeruput es teh dan merasa segar

Lulus SMA, Momo ingin jadi pastor
Teman-temannya sudah memimpin ekaristi
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Dia mulai mengunyah mendoan dan nasi

Sewaktu kuliah Momo ingin jadi dosen
Teman-temannya sudah mengajar di kampus
Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Kali ini dia mengunyah nasi dan tempe gembus

Teman-teman Momo sudah jadi sastrawan
Teman-teman Momo sudah jadi aktor
Teman-teman Momo sudah jadi pastor
Teman-teman Momo sudah jadi dosen

Momo masih duduk di belakang gerobak hik
Uangnya tinggal dua puluh ribu saja
Kemarin dia melamar kerja
Ternyata ditipu, hilang delapan juta

Momo melahap mendoan, gembus, dan nasi
Lalu dengan segelas es teh dia menutup hari

Surakarta, 15 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments