DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Pada Suatu Minggu Pagi

Pada Suatu Minggu Pagi

Pada suatu minggu pagi
seorang Pastor berkhotbah di mimbar gereja
dia bicara tentang cinta Tuhan di surga
dan kasih kepada sesama manusia di dunia
"Bapa kami yang ada di surga ...
... berilah kami rezeki pada hari ini ..."

Di sana ada seorang anak-anak
Dia berjalan menuju ke mimbar gereja
Sesampainya di mimbar, dia berhenti
Ditatapnya sang Pastor yang masih berdiri
Sembari memegang kasula si anak berkata,
"Bapak ... ."

Sukoharjo, 28 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments