DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

TERKEPUNG KATA-KATA

TERKEPUNG KATA-KATA

Semua orang tengah berbicara.
Semua orang tengah bersuara.
Walau cuma seratus empat puluh karakter,
semua ingin jadi yang paling banter

Jika semua mulut terbuka,
menggonggong bersahut-sahutan,
memberondong kata tanpa jeda,
siapa yang akan mendengarkan?

Semua bilang, "Aku yang paling benar."
Semua mengeklaim ngomong soal realita.
Mereka lupa, kebenaran bisa saja samar.
Mereka lupa, kebenaran sesuai sudut mata.

Suara dan kata-kata mengepung dari tiap penjuru.
Satu kalimat tertulis pun bisa bikin pekak telinga.
Bahkan, gambar-foto diperkosa caption yang menggebu.
Penanda-petanda dirampok untuk dijejali petanda lainnya.

Apa yang bisa kita lakukan untuk bereaksi,
di saat banjir kata bikin telinga dan perasaan tuli?
Kita bisa matikan ponsel-televisi lalu tidak peduli!
Buang jauh perangkat yang bawa segala ngeri!

Namun, sering kita butuh hiburan, haus keributan.
Jika noise itu voice, biar mereka saling argumentasi.
Nikmati saja adu bacot itu, kiranya jual beli pukulan.
Sebab, oleh Yang Maya, Realita telah dimodifikasi.

Tirtonadi Surakarta, 18 Oktober 2018
Padmo Adi

Comments