DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

Di Gerbang Selatan Prontera

Di Gerbang Selatan Prontera

Gerbang Selatan Prontera. Dokumen pribadi.

Di sini ... di Gerbang Selatan Prontera ini, aku menunggumu, sembari terus mencari satu atau dua pertanyaan yang jitu.

Lagu-lagu Korea itu terpaksa kudengarkan. Aku tak punya banyak pilihan. Setidaknya tidak ada Dududu atau Boombayah didendangkan.

Di sini ... di Gerbang Selatan Prontera ini ... aku menunggumu. Namun, masih juga aku tidak tahu, pertanyaan macam apa yang bisa kujadikan arah melaju.

Surakarta, 25 Maret 2019

Padmo Adi

Comments