DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

KEPADA ANASYI

KEPADA ANASYI

Suatu hari nanti aku harus melepasmu.
Aku belajar melepasmu kini.
Pergilah.
Terbanglah.
Kita tidak ditakdirkan bersama.
Tidak di dunia ini.
Tidak di masa ini.
Tidak juga di kehidupan mendatang.
Sebab aku akan reinkarnasi,
Kau segera masuk ke surgamu yang abadi.
Tapi, mungkin di Juno kita bisa sekadar bergandengan tangan,
sembari berbisik ... SELAMAT TINGGAL.

06 Juni 2019
@KalongGedhe

Comments