DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

KISAH LELAKI DI DALAM KOTAK LIMA INCHI

KISAH LELAKI DI DALAM KOTAK LIMA INCHI

Suatu hari kelak anak turunku akan membuka Sarang-Kalong.
Di sana mereka akan bertemu denganku...
sama seperti ketika aku bertemu Bapak pada buku hariannya...
sama seperti ketika aku bertemu Eyang Wareng pada museum Radya Pustaka.

Malang memang nasibku. Aku diceraikan dari Surakarta, walau aku ingin pulang ke sana, pasca-Salatiga, pasca-Ayodyakarta. Namun, dengan begitu, Surakarta menjadi jouissance yang hilang... Tanah Suci tempat naungan Fantasi.

...

Maka, kiranya genaplah tulisan ini:

“Bapak bagi bapak
adalah lelaki sepuh
dalam rumah tua di Kauman.

Bapak bagiku
adalah lelaki yang terbaring
di bawah batu marmer hitam.

Bapak bagi anakku
adalah lelaki
di dalam kotak lima inchi.”

Dokumen pribadi.

...

Malang memang nasibku.
Namun, jika aku boleh bernegosiasi,
suatu waktu nanti aku harus mengangsu,
izinkan aku menimba di bawah Ringin Soekarno lagi.

Malang, 23 Oktober 2019
Padmo Adi

Comments