MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com. Kala Kegelisahan melanda Kala Mala melumat purnama Bulan Separuh Bayang! Bawa ... Bawa ... Bawa ... seru orang-orang   Siapa yang tahan mendengarnya?! Kata-katanya membual lalu menyembur laksana bisa   Itu Rahu! Siapa yang tahu?!   Mereka pukul lesung bertalu Wulandari akan kembali Asura tinggal kepala saja Wisnu ada bersama kita   Jika asura itu akhirnya mati atau jatuh dan tergelimpang Cahaya Bulan meraja di bumi Malam muram masih panjang!   Tuhan ... kasihanilah kami ...   Malang, 01 Agustus 2026 Padmo Adi

SEBAB KITA MAKAN ANAK DOMBA YANG SAMA

SEBAB KITA MAKAN ANAK DOMBA YANG SAMA
*kepada Prativi, Karna, dan Sena

Dua bocah lelaki menetek dalam dekapan ibu
tanpa bapa.
Sebab lelaki yang mereka panggil bapa
hampir tidak pernah ada di sana.
Tiga ratus kilometer membentang
hutan lembah gunung menjulang
memisahkan mereka.

Lelaki itu dulu pergi bertapa
mencari bapanya yang telah tiada.
Di kaki Merbabu dia melihat cahaya,
memancar dari seekor yuyu, lalu bercinta.
Dari rahim yuyu itu lahirlah dua bocah lanang,
yang satu methakil seperti Hanuman
yang satu sumega seperti Werkudara.
Namun, mereka tak bisa bersama-sama.
Si lelaki harus menjalani dharmanya,
bersama Sastra Legawa dia berjalan ke Timur,
menembus hutan
menapaki lembah
melompati gunung
hingga tibalah dia di Negeri Ibu segala Raja Jawa.

Dalam lindungan ibunya, Mataram Merah
yuyu dan dua bocah lelaki itu dititipkan.
Jarak berubah menjadi kerinduan,
rindu berubah menjadi puisi,
puisi berubah menjadi doa.
Lelaki itu pergi ke Rumah Bapa,
yang rongganya seperti garba ibunya.
Di sanalah upacara pengorbanan Anak Domba.
Tubuh-Nya dipecah-pecahkan lalu dibagi.
Si lelaki memakannya, penuh kerinduan.

[...] yang rongganya seperti garba ibunya. Dokumen pribadi.

“Istriku, anak-anakku...
jika kalian rindukan aku,
makanlah daging Anak Domba,
maka kita akan bersatu,
sebab kita makan Anak Domba yang sama,
di bumi seperti di dalam surga.”

Malang, 10 November 2019
Padmo Adi

Comments