DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS

DI TEPI BRANTAS AKU DUDUK DAN MENANGIS   Gapura Besar sisi barat kota Surakarta. Foto dokumentasi pribadi. Surakarta... Surakarta... izinkan aku mengirimkan rinduku padamu... lewat kurir atau tukang pos... atau mungkin sekadar lewat Whatsapp Story . Kapan-kapan nanti aku kembali naik jip tua. Tolong jangan engkau tutup warung rica-rica! Surakarta... bagiku engkau adalah Mekkah atau Yerusalem atau Roma... bengawanmu adalah Sungai Gangga ... adalah Sungai Yordan tempat Yochanan membaptis Yashua! Aku tidak peduli bahwa para ningratmu rebutan kuasa hampa... aku pun tidak peduli bahwa di dalammu kini bersembunyi pria Sala yang pernah berkuasa... lalu pagar rumahnya menjelma tembok ratapan tempat orang berziarah mengunggah asa dan doa... selama engkau membuka warung rica-rica, aku akan senantiasa pulang kembali ke pelukanmu, Surakarta. Sebab, aku percaya bahwa sate jamumu lebih bergizi daripada makan siang basi yang disantap siswa-siswi. Gizi macam apa yang bisa diharapkan dari boga ...

SENANJAYA


SENANJAYA

Hidup adalah perutusan.
Carilah jalanmu, dan jalanilah.
Bagai Basusena yang mencari Parasurama...
Bagai Bratasena yang mencari Ruci Sang Dewa

Adiprativi hanyalah pintu...
yang menyiapkanmu menjalani perjalanan itu.
Bilamana masa tiba,
kalian jalani sendiri tanpa kami,
bersamalah berdua senantiasa.
Saudara sekali untuk selamanya.

Berbahagialah bersama semesta.
Tumbuh besar dan belajar yang benar.
Selalu ingatlah akan siapa dirimu...
wahai para Padma!!!

Surakarta, 12 Juli 2020
Padmo Adi

Comments