SINTA

SINTA Pada waktu SMA dulu Guru Sastra Inggris kami mengajak kami menonton film berjudul Dead Poets Society . Ada kata-kata dari film itu yang hingga kini masih terngiang di kepalaku. Bahkan, kata-kata itu pernah menjadi motto hidupku sewaktu remaja. Carpe diem . Seize the day . Bagaimana ya menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia? “Jangan sia-siakan hari ini,” mungkin begitu ya? Pada waktu itu punya motto dalam bahasa asing, apalagi Bahasa Latin, rasanya keren. Aku bikin stiker skotlet bertuliskan “ CARPE DIEM ” dengan warna merah mencolok, lalu aku tempelkan pada bagian samping belakang motor bebekku. Sejujurnya, waktu itu aku tidak begitu paham apa maksud dari kata-kata tersebut. Mengapa kita harus seize the day , di saat hari-hari berjalan dengan lambat sekali; masih ada esok hari, bukan? Yah... aku memakainya semata-mata karena keren saja. Maklumlah, anak remaja yang masih mencari jati diri. Kalau orang tanya, apa motto hidupku, dengan bangga aku akan menjawab, “Carpe diem,” lalu o...

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

KEPADA TANAH AIR INI ADA CINTA YANG TIDAK SEDERHANA

Nasionalismeku lebih daripada kegiatan baris-berbaris.
Nasionalismeku ada pada tiap puisiku baris demi baris.
Nasionalismeku bukan nasionalisme angkat senjata.
Nasionalismeku adalah nasionalisme angkat pena.
Nasionalismeku adalah baktiku pada Sastra Indonesia.
Nasionalismeku adalah persembahan diriku pada tunas-tunas muda.

Merdeka raganya, merdeka jiwanya.
Merdeka perutnya, merdeka pikirnya.
Merdeka karyanya, merdeka sembahyangnya.

Satu hal yang aku yakini dengan sepenuh hati:
Menjadi Jawa adalah gerak menjadi Indonesia,
tapi menjadi Indonesia janganlah jadi gerak men-Jawa.
Menjadi Katolik adalah gerak menjadi Indonesia,
namun, menjadi Indonesia adalah dinamika mem-bhinneka.

Artikulasi meng-Indonesia ini tidak selesai pada 17 Agustus tujuh puluh lima tahun lalu.
Artikulasi meng-Indonesia ini adalah aktus di sini dan kini.

Pada sahabatku yang biru itu aku menyaksikan manifestasi nasionalisme yang penuh cinta:
dia menanam sayurnya sendiri pada paralon cuma-cuma di depan rumah tumpukan bata.

Jangan ragukan nasionalisme orang-orang macam ini.
Rasa cintanya terhadap tanah-air ini semurni rasa cintanya pada kemanusiaan itu sendiri,
seperti kata Bung Besar pada pidato 1 Juni.

Dua orang jurnalis berkendara mengelilingi Indonesia mendokumentasikan realitas manusianya adalah gerak nasionalisme. Seorang sastrawan pulang ke negeri ini walau nikmat hidupnya di Negeri Kiwi adalah gerak nasionalisme. Para petani tembakau di Temanggung setia merajangi daun tembakau, itu adalah gerak nasionalisme. Seorang pengacara menjadi buangan karena membela hak asasi manusia justru adalah gerak nasionalisme. Para tenaga kesehatan berhadap-hadapan dengan wabah covid-sembilan belas yang mematikan adalah gerak nasionalisme. Seorang juragan martabak mencalonkan diri sebagai walikota, apakah itu juga gerak nasionalisme?

Semua orang bisa bilang “Aku cinta Indonesia,”
tapi berapa orang yang bisa menjawab petanda apa di balik penanda “Indonesia”?
Setiap orang bisa bilang, “Aku rela mati demi tanah-air ini,”
tapi berapa orang yang dapat dengan jitu memaknai frasa “tanah air” ini?
Semua orang bisa teriak “MERDEKA!!!”
semoga orang di Nabire sana pun dapat meneriakkannya dengan lega.

Malang, 17 Agustus 2020
kalonggedhe

Comments