SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM

SEBUAH BINTANG JATUH DI ATAS MAKAM * kepada N   Sebuah bintang jatuh di atas makam, pusara ayahnya jadi bunga yang segera layu remuk   dia dihancurkan rayu menawarkan cinta palsu oleh yang berseragam sang idaman mertua yang seharusnya menjaga tapi malah justru memperkosa melecehkan menghamili tanpa persetujuan dan tanpa pertanggungjawaban lalu membuatnya membunuh benihnya sendiri berkali-kali   yang melahirkan kebudayaan dipaksa mengugurkan janinnya demi kehormatan seseorang berseragam   dari atas makam itu api amarah bergelora membakar neraka membakar surga bumipun berkobar yang maya membara   keadilan diteriakkan seragam cokelat koyak jadi warna jingga di balik rangka baja   tapi kisah ini hanya simptom saja dari suatu kengerian yang terlanjur membanal   Jangan hanya menutupi vagina dengan dalih melindunginya Lalu menyalah-nyalahkannya ketika terluka. Tapi justru kita perlu memberadabkan penis-penis

TIGA KOTA TERIKAT RASA

 TIGA KOTA TERIKAT RASA

*kepada Angkatan III DAEBBAK


Di ujung pandangku terpaku Ujung Pandangmu, Makassar.
Namun apa daya, Malang nasibku.
Surabaya tak bisa dipandang sebelah mata.
Wabah ini semakin menggila!

Namun, tak juga kita kehilangan akal.
Pada tiap bilik sunyi kita masing-masing mengudara.
Lalu, kita berjumpa di sana secara maya.

Avatarku berjumpa dengan avatarmu.
Asing pada mulanya.
Canggung pada awalnya.
Namun, benarlah kita telah bersama.
Waktu kupejamkan mataku, ada kamu di sisi.
Meski ketika kubuka, aku tengah sendiri.

Walau wajah dan suaramu cuma maya semata,
kita nyata jalani perjalanan ini bersama.
Walau kita tak pernah bersua muka,
kini kita telah jadi saudara.
Mungkin ada juga yang mulai menumbuhkan benih cinta.

Perjalanan ini akan selesai sampai di sini.
Belum juga kita sempat duduk bersama minum kopi.
Namun, percayalah... aku akan merindukanmu di sisi...

Jika wabah ini berlalu...
biarlah ujung pandangku terpaku pada Ujung Pandangmu...
dan kita akan kopi darat di Makassar...
atau nasibmu akan Malang sepertiku, sehingga kita bisa duduk bersama di Soekarno-Hatta...
atau kita malah akan berjumpa di Surabaya, kota para pemberani.

 

Malang, September 2020

Padmo Adi

Comments