MALAM MURAM MASIH PANJANG

MALAM MURAM MASIH PANJANG   Musikalisasi puisi dengan suno.com. Kala Kegelisahan melanda Kala Mala melumat purnama Bulan Separuh Bayang! Bawa ... Bawa ... Bawa ... seru orang-orang   Siapa yang tahan mendengarnya?! Kata-katanya membual lalu menyembur laksana bisa   Itu Rahu! Siapa yang tahu?!   Mereka pukul lesung bertalu Wulandari akan kembali Asura tinggal kepala saja Wisnu ada bersama kita   Jika asura itu akhirnya mati atau jatuh dan tergelimpang Cahaya Bulan meraja di bumi Malam muram masih panjang!   Tuhan ... kasihanilah kami ...   Malang, 01 Agustus 2026 Padmo Adi

API PASKAH

 API PASKAH

 


Aku melihat api. Api di mana-mana.

 

Ada orang ingin mengebom gereja.

Tanpa dia tahu, gereja sudah setahun ini kosong.

Masing-masing streaming misa online dari rumah.

 

Tapi, dia nekat mendatangi gereja.

Meledakkan diri.

Ususnya terburai.

Wajahnya tersenyum.

Gosong.

 

Santo Petrus, penjaga gerbang surga, menemuinya.

Minta apimu... aku ingin udud dulu.

Lelaki itu bingung.

Tidak ada bidadari.

Hanya Petrus, lelaki Yahudi.

 

Santo Petrus kasihan padanya.

Lelaki itu tak diakui agamanya.

Terlanjur jadi arang... baunya anyir.

 

Tuhan di mana?

Tuhan adalah api.

Jadi, benar aku mati demi Tuhan?

Ini kretek. Ududlah dulu. Seminggu lagi Paskah.

Nanti kau aku permandikan... dengan air. Biar tidak gosong begitu.

Tidak. Aku mau dibakar api.

Tuhan adalah air.

 

Santo Petrus tidak paham,

sebenarnya lelaki itu hanya ingin dibaptis...

dengan api.

Seperti janji Isa pada murid-murid-Nya.

Hanya saja, dia salah baca.

Api Roh Tuhan adalah cinta, bukan mesiu.

 

Santo Petrus menghabiskan kreteknya.

Dipandanginya lelaki gosong itu...

menangis tersedu-sedu.

 

29 Maret 2021

Padmo Adi

Comments