KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING

  KISAH PERANTAU DI TANAH YANG ASING   Pada suatu malam Sang Hyang bersabda, “Pergilah ke Timur, ke tanah yang Kujanjikan keluarlah dari kota ayahmu pergilah dari kota kakek moyangmu seperti halnya Isyana boyongan begitulah kamu akan mengenang moyangmu yang di Medang.”   Aku mengiya dalam kedalaman sembah-Hyang, sembari mengenang para leluhur, bapak dan eyang. Leluhurku adalah Sang Tiyang Mardika yang dengan kebebasannya menganggit sastra Jawa . Sementara eyang adalah pasukan Slamet Riyadi, ibunya Tumenggung, ayahnya Lurah! Bapak sendiri adalah pegawai negeri, guru sekolah menengah di utara Jawa Tengah.   Di sinilah aku sekarang, di tanah Wangsa Rajasa Tidak pernah aku sangka, tidak pernah aku minta Apa yang Kaumaui, Dhuh Gusti Pangeran mami ?! Apa yang Kaukehendaki kulakukan di tanah ini?   Belum genap semua terjawab, empat kali bumi kelilingi matahari! Pun baru purna enam purnama, saat aku tetirah di timur Singhasari, oh, aku

PANJI BIRU

 PANJI BIRU

*kepada Didik Panji, guru teaterku 


Didik Panji, teaterawan Surakarta


Panji Biru berkibar

gelora api berkobar

Gelas-gelas kaca ambyar

dan pasar yang terbakar

 

Panji Biru

menuntun anak-anak ayam

jadi ayam jago yang juara

menuntun cemeng-cemeng

jadi kucing anggora idola

menuntun piyik-piyik cilik

jadi garuda bala angkasa

menuntun gogor kudisan

jadi raja rimba nan wibawa

 

Kini Panji tak lagi bersama Biroe

Biroe akan terus jadi biru

tapi Panji Biru akan jadi Biroe Tua

bersama Biroe lain yang telah purna

jadi Biroe Tua

warna Samudera

yang menyimpan tragi-komedi kehidupan

 

Singosari, 17 Januari 2022

Padmo Adi

Comments